Manusia dan Jin

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{أَيُّهَا الثَّقَلانِ}

hai manusia dan jin. (Ar-Rahman: 31)

Yang dimaksud dengan saqalani ialah jin dan manusia, seperti pengertian yang disebutkan dalam hadis sahih (yang menceritakan jeritan orang yang mengalami siksa kubur):

“يَسْمَعُهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ”

terdengar oleh segala sesuatu kecuali oleh saqlain.

Menurut riwayat yang lain disebutkan,

“إِلَّا الْجِنَّ وَالْإِنْسَ”

“Kecuali al-insu wal jinnu (manusia dan jin).”

Dan di dalam riwayat yang lainnya lagi disebutkan,

الثَّقَلَانِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ”

“Kecuali saqalani, yaitu manusia dan jin.”

{فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ}

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 32)

*******************

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ}

Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. (Ar-Rahman: 33)

Yakni kalian tidak akan dapat melarikan diri dari perintah Allah dan takdir­Nya, bahkan Dia meliputi kalian dan kalian tidak akan mampu melepaskan diri dari hukum-Nya, tidak pula membatalkan hukum-Nya terhadap kalian, ke mana pun kalian pergi selalu diliput. Dan ini menceritakan keadaan di Yaumul Mahsyar (hari manusia dihimpunkan); sedangkan semua malaikat mengawasi semua makhluk sebanyak tujuh saf dari semua penjuru, maka tiada seorang pun yang dapat meloloskan diri,

{إِلا بِسُلْطَانٍ}

kecuali dengan kekuasaan. (Ar-Rahman: 33)

Yaitu dengan perintah dari Allah.

{يَقُولُ الإنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ. كَلا لَا وَزَرَ. إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ}

Pada hari itu manusia berkata, “Ke manakah tempat lari?”Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. (Al-Qiyamah: 10-12)

Disebutkan pula dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

Dan orang-orang yang mengajarkan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Yunus: 27)

Karena itulah maka dalam ayat selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya:

{يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلا تَنْتَصِرَانِ}

Kepada kamu berdua (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, sehingga kamu tidak dapat menyelamatkan diri (darinya). (Ar-Rahman: 35)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan syuwaz ialah nyala api.

Sa’id ibnu Jubair telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan syuwaz ialah asap.

Menurut Mujahid, nyala api yang berwarna biru.

Abu Saleh mengatakan bahwa syuwaz artinya nyala api yang paling ujung dan sebelum asap.

Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: nyala api. (Ar-Rahman: 35) Yakni gumpalan api bagaikan air bah.

*******************

Bersambung

T S M

*HAKIKAT KEHIDUPAN DAN KEMATIAN*

Bismillah
Assalamu’alaikum

Bangun yuk.

*HAKIKAT KEHIDUPAN DAN KEMATIAN*

Untaian Nasihat Imam Syafi’i tentang hakikat kehidupan dan kematian

ندم وحزن هز كل كياني فانساب دمعي واستكان لساني

Menyesal, berduka dan tersentak seluruh keadaanku.
Air mataku berderai dan mulutku terkunci.

النفس حيرى والذنوب كثيرة والعمر يمضي والحياة ثواني

Jiwaku linglung dan dosaku menumpuk.
Umur terus berlalu dan hidup hanyalah beberapa detik berlalu.

يا نفس كفي عن معاصيك التي كادت تميت الحس في وجداني

Wahai jiwaku berhentilah dari maksiatmu, karena itu yang mematikan perasaanku.

أنسيت أن الموت آت، فاجمعي يا نفس من طيب ومن إحسان

Apakah kamu lupa bahwa kematian pasti datang, maka bersiaplah
Wahai jiwaku berbekallah dengan kebaikan dan kebajikan.

أنا لست أخشى الموت بل أخشى الذي بعد الممات، وعسرة السؤلان

Sebetulnya aku tidak pernah takut kepada kematian tapi takut kehidupan setelah kematian dan sulitnya pertanyaan.

ماذا أقول إذا فقدت إرادتي وتكلمت بعدي يدي ولساني

Apakah yang akan aku ucapkan bila aku sudah tidak punya kehendak lagi. Dan bila setelah itu yang berbicara tanganku dan lisanku.

ماذا.. وكل جوارحي تحكي بما صنعت.. ولست بعالم النسيان

Apakah yang akan terjadi… Saat seluruh anggota tubuhku berbicara tentang apa yang aku perbuat sementara aku tidak di alam lupa.

أخشاك يا شمس الشتاء فكيف لا أخشى العذاب وحرقة النيران

Panas matahari musim dingin kau takuti bagaimana tidak takut adzab dan panasnya neraka.

أنا يا الهي حائر فتولني ولأنت تهدي حيرة الحيران

Wahai Tuhanku, aku bingung bimbinglah aku karena sungguh Engkau penunjuk hamba yang sedang bimbang.

أنا إن عصيت فهذا لأني غافل ولقد علمت عواقب العصيان

Andai aku bermaksiat terus hingga lupa diri. Padahal aku tahu akibat buruk kemaksiatan.

أنا إن عصيت فهذا لأني ظالم والظلم صنع من يد الإنسان

Andai aku terus maksiat, sungguh aku zalim. Dan kezaliman sudah menjadi watak manusia.

لكنك الغفار فاغفر ما جنت نفسي على نفسي فأنت الحاني

Akan tetapi Engkau maha pengampun maka ampunilah dosaku. Kesalahan demi kesalahan Engkau maha lembut.

أشكو إليك ضآلتي ومذلتي فارفع بفضلك ما أذل زماني

Aku mengadu kepadamu akan kesesatan dan kehinaanku. Ya Allah Angkatlah dengan karuniamu dari kehinaan.

أدعوك في صمتي، وفي نطقي وفي همسي بقلب دائم الخفقان

Aku memohon kepadamu pada tiap diam dan berbicaraku. Dan dalam bisikan hatiku aku selalu bermunajat Padamu.

أدعوك فاقبل دعوتي وارفع بها شأني، وكن لي يا عظيم الشان

Aku berdoa kepadamu, terimalah doaku, Angkatlah derajatku dan tolonglah aku wahai dzat yang maha Agung.

لك في الفؤاد مهابة ومحبة يا من بحبك يستضيء كياني

Engkau di hatiku senantiasa aku agungkan dan cintai. Wahai dzat yang dengan kecintaanmu bersinarlah kehidupanku.

أنا يا إلهي عائد من وحدتي أنا هارب من كثرة الأشجان

Wahai Tuhanku, aku kembali dari peraduannya. Aku lari dari berbagai macam salahku.

من لي سواك يجيرني ويعيدني من عالم الأهواء.. والشيطان

Tidak ada selainmu yang bisa melindungiku dan menyelamatkanku.
Dari hawa nafsu dan setan.

سدت بوجهي كل أبواب المنى فأتيت بابك طالب الغفران

Di hadapanku tertutup semua pintu harapan, aku datangi pintumu untuk mengejar pengampunan.

يارب إني قد أتيتك تائبا فاقبل بعفوك توبة الندمان.

Wahai Tuhanku, sungguh aku datang kepadamu untuk bertaubat. Terimalah dengan ampunanmu sebagai hamba yang bertaubat penuh penyesalan.

#Tahajjudyuk

I’lmu Mantiq

2 Tsanawy Miftahul Huda Al-Hadi

Kamis, 24 Januari 2019
resum mantiq sulamul munaurok

MACAM-MACAM ILMU MANUSIA

A.pengertian dan pembagian ilmu

Ilmu itu ada dua bagian , yaitu :
Ilmu Qadim (dahulu), yaitu ilmu Alloh SWT.
Ilmu Hadits (baru), yaitu ilmu yang dimiliki mahluk. Ilmu mahluk inilah yang menjadi bahasan dalam bab ini.
Ilmu menurut ahli Mantiq (logika) ialah hal mengetaui sesuatu yang majhul secara yaqin atau zhann (dugaan) ,sesuai dengan kenyataan atau tidak.

SKEMA PEMBAGIAN ILMU

Ilmu adalah suatu susunan pengetauan secara sistematis yang mempersoalkan bagian tertentu dari alam semesta (mahluk).

Ilmu itu terbagi menjadi dua, yaitu :
Tashwwur (konsepsi),yaitu memahami atau mengetaui hakekat-hakekat arti dari lafazh yang mufrad (tunggal) tanpa embel-embel apapun . seperti pemahaman terhadap arti manusia, rumah, pohon dan burung.
Tashdiq (persepsi), yaitu memahami atau mengetaui kenyataan kenisbatan , ada atau tidak adakenyataan itu, seperti pemahaman bahwa air laut asin, langit tidak di bawah kita.
B.PEMBAGIAN TASHAWWUR DAN TASHDIQ
Tashwwur (konsepsi) terbagi menjadi dua, yaitu :
Tashwwur Nazhari, seperti gambaran pikiran tentang hakikat listrik,ruh, telepon atau telivisi.hakekat benda-benda tersebut dapat dipahami setelah berpikir panjang dan mendalam.
Tashwwur Dharuri, seperti gambaran pikiran terhadap arti lapar, haus, dingin atau panas.

Tashdiq (persepsi) terbagi menjadi dua, yaitu :
Tashdiq Nazhari, seperti alam raya adalah baru(mahluq) dan orang-orang mati akan dibangkitkan kembali dari kuburnya, hal seperti itu tidak dapat dipahami kecuali dengan kajian dan pikiran yang mendalam.
Tashdiq Dharuri, seperti satu benda tidak mungkin ada dalam dua tempat dalam waktu yang sama, dan satu adalah setengah dari dua.

C.DEFINISI DAN HUJJAH

Qoul syarih maksudnya adalah definisi, menurut ahli mantiq ialah lafazh yang memberikan kepahaman tentang makna mufrad (tashawwur/konsepsi)
contoh : Ibu menyuruh anaknya pergi ke kedai makanan membeli lumpur.si anak binggung lantas tanya pada ibunya, “lumpur apa bu? “Ibu berkata, “lumpur, ya jajan yang terbuat dari kentang, tepung, telur dan gula diulet jadi satu,dicetak bulat sebesar tutup cangkir dengan dipanasi api.” Si anak setalah mendengar keterangan sang ibu langsung paham arti lumpur.

Hujjah maksudnya adalah kias (silogisme)menurut ahli mantiq ialah lafazh yang memberi pengertian (kepahaman)pada tashdiq.
Contoh : Ungkapan alam raya ini beruba-rubah dan setiap yang berubah adalah mahluk, ungkapan ini mengantarkan pada kesimpulan alam raya adalah mahluk.

فصل في انواع الدلالة
MACAM-MACAM DALALAH

PEMBAGIAN DALALAH
طبيعية

Dalalah (tanda) adalah sesuatu yang dapat menunjukkan suatu pengertian. Dalalah itu ada macam , yaitu :
Dalalah Lafzhiyah, ialah tanda (dalalah) yang berupa bentuk kata, misanya : rumah , menunjukkan bangunan tempat tinggal yang terdiri dari dinding (papan/tembok), tiang,atap, pintu dan lainya.
Dalalah Ghairu Lafzhiyah, ialah tanda (dalalah) yang bukan bukan berbentuk kata, misalnya :Merah muda, menunjukkan malu.
Dalalah Lafzhiyah (tanda yang berupa kata) itu ada tiga macam, yaitu :
a. Thabi’iyah (طبيعية), yaitu dalalah (tanda) yang besifat pembawaan, sepeti “aduh” (rintian) menunjukkan sakit.
b. Aqliyyah (عقلية) yaitu dalalah (tanda) yang berdaasarkan akal, sepeti suara dalam ruangan ada orang di dalamnya.
c. Wadh’iyyah (وضعية), yaitu dalalah (tanda) yang berdaasarkan penetapan istilah, sperti kata yang menunjukkan arti yang ditetapkan bagi kata-kata itu dalam bahasa , seperti Es teh menunjukkan minuman teh yang diberi es.
Dalalah Ghairu Lafzhiyah (tanda yang berupa kata) itu juga ada tiga, yaitu :
a. Thabi’iyah (طبيعية),yaitu dalalah (tanda) yang besifat pembawaan, seperti : Merah mudah menunjukkan malu.
b. Aqliyyah (عقلية) yaitu dalalah (tanda) yang berdaasarkan akal, sepeti perubahan tatanan barang-barang di kamar menunjukkan orang yanga masuk kedalamnya dan mengadakan perubahan itu.
c. Wadh’iyyah (وضعية), yaitu dalalah (tanda) yang berupa penetapan istilah, sperti “ bendera setengah tiang menandakan berkabung.

Dalalah (tanda) yang menjadi obyek pembahasan dalam ilmu mantiq adalah Dalalah Lafzhiyah Wadh’iyyah (tanda yang berbentuk kata yang bersifat penetapan)

MACAM-MACAM DALALAH LAFZHIYAH WADH’IYYAH
Skema Dalalah Lafzhiyah Wadh’iyyah

Di dalam ilmu mantiq Dalalah Lafzhiyah Wadh’iyyah ada tiga macam, yaitu :
Dalalah muthabaqah (Denotasi Lengkap), yaitu apabila maknanya sepenuhnya selaras dengan arti lengkap (utuh)nya. Seperti makna sapi pada kalimat “saya membeli sapi” yang dimaksudkan sapi disini keseluruan sapi secara makna dan arti.
Dalalah Tadhammun (Denotasi Implikatif), yaitu apabila makna yang yang dimaksudkan sebagian saja dari arti sepenuhnya, seperti makna kata sapi dalam kalimat “saya memukul sapi” yang dimaksudkan disini hanyalah sebagian tubuh sapi .
Dalalah iltizam (Denotasi Inhern) , yaitu apabila makna yang dimaksudkan adalah pengertian lain, tetapi pengertian lain itu merupakan hal lazim yang ada pada kata tersebut, seperti makna kata sapi dalam kalimat “saya menarik sapi” pengertian sapi disini bukan bagian dari makna sapi sama sekali, sapi dalam kalimat disini pengertianya adalah tali yang merupakan kel;aziman bagi sapi pemeliharaan.

BAB II
KATA (LAFAZH) DAN PEMBAGIANYA

فصل في مباحث الألفاظ
PEMBAHASAN TENTANG KATA-KATA

Kata (lafazh) adalah bunyi atau kesatuan bunyi yang mengandung arti tertentu. Sedangkan kalimat adalah kesatuan kata-kata atau kata yang mengandung pengertian yang sempurna atau lengkap. Kata (lafazh) bisa disebut terma dalam logika. Terma adalah kata atau kesatuan kata-kata yang dapat dipergunakan sebagai subyek (المواضوع) atau predikat (المحمول) dalam sebua proposisi (القضية) ilmu logika.

A.PEMBAGIAN KATA
Bunyi (kata) atau kesatuan bunyi (kata-kata) itu ada yang tidak berfungsi (muhmal) jika tidak mengandung arti, dan berfungsi (musta’mal) jika mengandung arti tertentu.

SKEMA KATA (LAFAZH)

Lafazh yang musta’mal (term) itu terbagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Murakkab (komposit), jika term itu terdiri dari lebih dari satu kata, seperti :rumah sakit, kudah putih dan lain sebagainya.term komposit ini walaupun bagian dari masing-masing mempunyai pengertian sendiri-sendiri , tetapi jika digabungkan hanya menjadi satu pengertian.
2. Mufrad (simpel), jika term itu trdiri dari satu kataatau satu istilah, seperti :manusia , negara, kuda dan sebagainya.
B. PEMBAGIAN LAFAZH MUFRAD
Lafazh Mufrad (Term Simpel Universal) itu terbagi menjadi dua macam, yaitu :
Kulliy (Universal) adalah term yang dapat dipergunakan bagi setiap anggota suatu kelas dengan arti yang sama .contoh : sekolah adalah satu lafazd untuk satu pengertian sifat-sifat tertentu yang membentuk pengertian , sekolah ini dapat di terapkan pada; SD,SMP, SMU, MI, MTs, MA, dan sebagainya.
juz’iy (Partikuler), kebalikan Kulliy, yaitu term yang menunjukkan satu obyek saja , misalnya : ahmad , umar, dosen ilmu logika raden wijaya. Pengertian kata dan susunan kata-kata tersebut menunjukkan satu obyek, tidak dapat diterapkan pada hal lain .

C. PEMBAGIAN LAFAZH MUFRAD KULLY
Kulliy (Term Simpel Universal) itu terbagi menjadi dua macam, yaitu :
Dzati (Subtansional) , yaitu jika pengertian dari Kulliy itu bagian dari dari hakikat Juz’i (sebagin)nya, seperti kata Hewan dan Natiq dinisbatkan pada manusia. Manusia hakekatnya hewan (sebagian) dan manusia hakekatnya berpikir (sebagian). Hewan (Animalitas) sebagian dari pengertian manusia,Natiq /yang berpikir (Rasionalitas) sebagian dari pengertianmanusia, manusia sama dengan binatang yang berfikir (seluruhnya).
Aridhi (Accidental), yaitu jika dari pengertian dari Kulliy itu tidak termasuk dalam hakikat Juz’iy (sebagin)nya. Seperti lafazh Gubernur di nisbatkan pada pakde Karwo. Sekalipun pakde Karwo dapat di sebut Gubenur ,tetapi lafazd Gubernur tidak temasuk hakikat pakde Karwo.

D. PEMBAGIAN KULLIYAT (KLASIFIKASI)

Predicabel adalah nama-nama jenis predikat dalam hubunganya dengan subyek. Ada berbagi hubungan antara subyek dan predikat. Hubungan-hubungan inilah yang dinamai Predicabel.
Menurut propirius predicabel itu terbagi menjadi lima macam yaitu :
1. Genus (الجنس ), yaitu himpunan golongan-golongan yang menunjukkan hakikat sesuatu yang berbeda tetapi terpadu oleh persamaan sifat, seperti term “hewan”. Dalam term ini terhimpun semua golongan-golongan : manusia ,kuda , kera, sampai yang sekecil apapun. Persamaan sifatnya adalah sama-sama bernyawa .
2. Defferentia (الفصل), artinya pembeda.yaitu suatu atribut atau kumppulan atribut-atribut yang membedakan suatu kelas /golongan /spesies dari golongan lainya dalam genus yang sama. Contoh : Rasionalitas (الناطق) memisahkan manusia dari golongan hewan lain seperti kuda,kera, dan sebagainya dalam jenis hewan.
3. Accident (العرض ), atribut yang bukan merupakan bagian dari konotasi (hakekat) term dan tidak merupakan kelanjutan dari konotasi itu (atribut tambahan yang tidak kusus dimiliki term. Contoh : hitam, bagi manusia bukanlah atribut yang kusus baginya, tetapi dari golongan lain pun ada yang memiliki atribut hitam, sepeti ayam dan sebagainya.
4. species (النوع) , yaitu kelompok dari (individu) yang menunjukkan hakekat kebersamaan bentuknya dan sifat-sifat tertentu yang membedakanya dengan dari golongan lain . misalnya : term manusia, setiap individu dalam lingkungan golongan ini memperlihatkan persamaan bentuk.sifat yang membedakannya dari golongan lainnya ialah kemampuan berfikir (Rasionalitas).
5. proparium(الخاص ), yaitu atribut atau kumpulan atribut tambahan (bukan bagian dari hakekat term ) yang dimiliki secara kusus oleh setiap individu golongan. Seperti tertawa (ضاحك) bagi manusia . Tertyawa itu bukanlah hakekat manusia, tetapi tertawa itu khusus ada pada manusia.

E. PEMBAGIAN GENUS
Genus (الجنس )dibagi menjadi tiga, yaitu :
Proximate genus (الجنس القريب ) ialah genus yang dibawahnya tidak terdapat genus lagi, tetapi hanya terdapat kelas-kelas/golongan-golongan dan di atasnya terdapat genus-genus yang lebih tinggi. Misalnya term hewan, di bawah hewan sudah tidak genus lagi. Yang ada hanyalah species-species , seperti manusia, kera, kuda dan sebagainya, yang semuanya hanyalah bagian dari hewan.
Summum genus (الجنس البعيد , ialah genus yang di atasnya tidak ada genus lagi dan dibawahnya terdapat genus-genus lain. Misalnya : Al-jauhar, diatasnya tidak ada genus lagi, tetapi dibawahnya terdapat genus-genus seperti jasad dan hewan.
Subaltera genera (الجنس الوسط ), ialah genus-genus yang di atasnya terdapat genus dan dibawahnya juga terdapat genus lain, seperti jasad hidup (An-nami), diatasnya ada genus jasad dan dibawahnya ada genus hewan.

فصل في نسبة الألفاظ للمعاني
HUBUNGAN LAFAZH DENGAN ARTI
A. Pembagian lafazh menurut arti
Setiap kata yang mencakup /universal (lafazh kulliy) dilihat dari segi arti itu ada lima macam, yaitu :
1. Tawathu’ (univokal), lafazh yang mempunyai banyak arti yang semua arti itu sama, seperti kata manusia.
2. Tasyakuk ( ekuivokal), kata yang mempunyai banyak arti yang semua arti itu tidak sama, seperti kata cahaya. Cahaya matahari tidak sama dengan cahaya pada bulan.
3. takhaluf (disparitas), ialah suatu kata yng artinya tidak sama dengan kata lain atau sejumlah lafazh yang mempunyai arti sendiri-sendiri seperti kata “Manusia” dan kata “Kuda” keduanya memiliki arti sendiri yang berbeda sama sekali.
4. Musytarak (hononim), ialah satu kata yang mempunyai arti lebih dari satu. Seperti kata “amat”, kata ini bisa bermakna sangat dan suatu ketika kata “amat” bisa berarti nama orang.
5. Mutaradif (sinonim), ialah sejumlah kata yang berbeda diartikan dengan pengetian yang sama. Seperti Aturan dan norma, adat dan kebiasaan.
B. PEMBAGIAN LAFAZH MURAKKAB
Skema kata yang tersusun

Lafazh yang murakkab (kata yang tersusun) secara sempurna itu disebut kalimat, dan kalimat itu ada dua macam, yaitu :
1. Thalab (permintaan). Kalimat permintaan ini terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. Amar (perintah)
b. Doa (permohonan)
c. Iltimas (permintaan/harapan)

2. Kalimat berita

فصل في الكل والكلية والجزء والجزئية
KULLI-KULLIYAT DAN JUZ’I-JUZ’IYYAT

Al-kull (General), artinya menentukan hukum atas sesuatu secara majemuk (umum, sebagian,atau keseluruan).

Al-kulliyyah (Emtire) artinya menentukan hukum atas sesuatu secara keseluruan satu persatu. Contoh :
· Tiap-tiap yang bernyawa pasti merasakan mati.
· Tak satupun mahluq hidup kekal di dunia ini.

Al-juz’i (Partikular) artinya menetapkan hukum atas sesuatu, secara tidak keseluruan tapi sebagian dari keseluruan (Diri). Contoh :
· Sebagian pekerja indonesia bekerja di luar negri.
· Tak semua pemuda indonesia bekerja di luar negri.

فصل في المعرفات
DEFINISI (MU’ARRIF)
A. PEMBAGIAN DEVINISI

Skema Definisi (Mu’rrif)

B. SYARAT-SYARAT DEFINISI
Syarat-syarat yang dominan bagi orang yang akan membuat suatu Definisi, yaitu :
Definisi harus mengadung semua dari yang ada pada Definiendum (yang diberi definisi) dan tidak memasukkan yang tidak terkandung dalam Definiendum.
Definisi harus lebih jelas (lebih umum) dari pada Definiendum,tidak sebaliknya.
Definisi harus tidak terdiri dari sesuatu yang sama dengan Definiendum dalm hal kesamaran.
Definisi harus tidak mengandung kiasan (majas) dengan tanpa ada tanda.
Definisi tidak boleh dengan menggunakan kata-kat yang di jumpai pada Definiendum.
Definisi tidak boleh menggunakan kata yang Musytarak (homonium) yang tidak disertai tanda (qorinah).
Definisi tidak boleh dimasuki ketentuan hukum.
Definisi essensial (had) tidak boleh ada kata atau di dalamnya, tetapi dalam Definisi Eksidental boleh.

BAB III
القضايا وأحكمها
PROPOSISI DAN HUKUM-HUKUMNYA

A. PENGERTIAN PROPOSISI (QADHIYYAH)

Qadhiyyah (proposisi) adalah sebuah kalimat pernyataan yang mungkin benar dan mungkin salah, ditinjau dari segi klimat pernyataan itu sendiri.dalam ilmu tata bahasa, Qadhiyyah disebut dengan kalam.
Proposisi terdiri dari tiga unsur,yaitu :
· Subyek (مَوضوع) ialah sesuatu yang diterangkan.
· Predikat (محمول) ialah sesuatu yang menerangkan.
· Kopula (نسبة / رابطة) ialah tanda yang menyatakan hubungan antara subyek dan predikat.

Catatan : Ilmu mantiq (logika) hanya membahas kalimat khabar (keterangan).
B.MACAM-MACAM PROPOSISI

Skema Proposisi Kategoris Dan pembagianya

Proposisi (قضية) menurut ahli ilmu mantiq ada dua macam, yaitu :
proposisi kondisisonal (قضية شرطية)
proposisi kategoris (قضية حملية)

1. Proposisi kategoris (قضية حملية) dan pembagianya
Proposisi kategoris (قضية حملية) yaitu pernyataan yang antara subyek dan predikat tidak terkait dengan sesuatu syarat.contoh :semua mahluk akan sirna.
Proposisi kategoris (قضية حملية) terbagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Proposisi Kategoris Universal (كلية قضية حملية),yaitu proposisi kategoris yang subyeknya mencakup semua yang di kandungnya. Contoh : Manusia adalah mahluk yang bernyawa.
2. Proposisi Kategoris Individual (قضية حملية شخصية), yaitu proposisi kategoris yang subyeknya tidak mencakup semua jenisnya. Contoh : hasan itu seorang dokter, sebagian pejabat itu tidak korupsi.

Proposisi kategoris universal itu ada dua bagian, yaitu :
Definitif (مسوّرة), yaitu Qadhiyah hamliyyah kulliyyah yang didahului oleh sur.
Indefinitif (مُهمَلَة), yaitu Qadhiyyah hamliyyah kulliyyah muhmalah yang tidak didahului sur

Catatan : Sur adalah kata yang menunjukkan kualitas (kadar jumlah personal) subyek. Sur adakalahnya kulli dan adakalanya juz’i.

Ditinjau dari subyeknya Proposisi Kategoris ada empat macam :
Proposisi Kategoris Universal (كلية قضية حملية)
Proposisi Kategoris Individual (قضية حملية شخصية)
Proposisi Kategoris General (قضية حملية مُهمَلَة)
Proposisi Kategoris particular (قضية حملية جزئية)
Ditinjau dari predikat dan kualitasnya Proposisi Kategoris ada dua macam :
Afirmatif (موجبة), ialah proposisi kategoris yang kopulanya membenarkan adanya persesuaian hub. Subyek dan predikat.contoh :Manusia adalah hewan berfikir, sebagian manusia adlah bijaksana.
Negatif (سالبة),ialah proposisi kategoris yang kopulanya menyatakan bahwa antara subyek dan predikat tidak ada hubungan sama sekali. Conoh : semua manusia itu tidak suka sengsara,sebagian manusia tidak mau dihina.

Catatan :
v proposisi afirmatif kopulanya selalu bersifat membenarkan.
v Proposisi negatif kopula mempunyai tanda negatif.

Maka dapat disimpulkan bahwa jumlahproposisi kategoris seluruhnya ada delapan ,yaitu :
Kategoris Universal Afirmatif contoh Semua manusia adalah hewan.
Kategoris Universal Negatif. Contoh : Semua manusia tidak batu.
Kategoris Individual Afirmatif. Contoh : Hasan adalah wartawan.
Kategoris Individual Negatif. Contoh : Hasan bukan seorang wartawan.
Kategoris General Afirmatif. Contoh : Manusia adalah hewan.
Kategoris General Negatif. Contoh : Tak seorangpun manusia itu batu.
Katigoris Partikular Afirmatif. Contoh : Sebagian manusia berpendidikan
Katigoris Partikular Negatif. Contoh : Sebagian manusia tidak bermoral

Unsur proposisi kategoris (قضية حملية) itu terdiri dari dua unsur, yaitu :
1. Subyek (موضوع)
2. Predikat (محمول)
Catatan :
Sebenarnya ada unsur yang ke tiga disbt. Dengan Kopula (رابطة) ada kalanya kopula tdak jelas, tetapi dpt dipahami oleh hati. Contoh :
عدوٌُّ عاقل خيرٌُ من صديقٍِ جاهلٍِ
“lawan yang cerdik lebih baik dari pada kawan yang bodoh”
Dalam prosisi ini subyek dan predikat jelas,sedang kopula tidak jelas.

عزُّ الدينِ هو طالبٌُ مجتهدٌُ
“”izzuddin adalah siswa yang sungguh-sungguh.”
Dalam proposisi ini kopula disbt. dengan jelas berupa هو
Fungsi kopula menyatakan hubungan yang terdapat antara subyek dan predikat.

2. Proposisi Kondisional dan Pembagianya

Proposisi kondisional (قضية شرطية), proposisi yang hubungan antara subyek dan predikat terkait dengan syarat. Contoh : “ Apabila besi selalu dipanasi, maka besi itu memuaio karena panas.”

Proposisi kondisional (قضية شرطية) itu terbagi menjadi dua, yaitu
Hipotetis (متصلة قضية شرطية) ialah proposisi kondisional yang hubungan antara subyek dan predikat merupakn hubungan yang tetap. Memakai tanda penghubung ‘jika” atau kata-kata yang sejenis dengan kata itu. Contoh : Jika matahari terbit , maka tampaklah siang.
disjunktif (قضية شرطية منفصلة ) ialah proposisi kondisional yang memastikan adanya hubungan yang berlainan diantara dua unsur proposisi itu. Memakai kata penghubung “atau’ dan “adakalanya” atau kata-kata yang sejenis dengan itu. Contoh : Hamid seorang dokter atau dosen.

Pembagian Proposisi Kondisional Disjunktif

Proposisi Kondisional Disjunktif dipandang dari segi antesenden /pengantar (مقدم) dan konsekwen / pengiring(تالي) itu ada tiga, yaitu :

Mani’u jami’i, yaitu terlarang berkumpul antara pengantar dan pengiring , dan tidk mungkin dapat bergabung ,tapi boleh sepi keduanya. Contoh : tubuh itu ada kalanya putih dan ada kalanya hitam.
Mani’u khulwwin, artinya terlarang hilang (tiada) satu dengan yang lain, tapi boleh berkumpul keduanya. Contoh: Adakalanya zaid di laut dan adakalanya tidak tenggelam.
Mani’u Jam’in Wa Khuluwwin artinya terlarang sepi dari salah satunya dan terlarang pula bersatu.( jenis inidisebut hakikiya) contoh : Bilangan itu adakalanya genap dan adakalanya ganjil.

Penyederhanaan Bentuk Proposisi

Skema Bentuk Proposisi

Bentuk proposisi berdasarkan kuantitas ada dua macam, yaitu :
Universal dan
Particular
Sedang pembagian berdasarkan kualitas ada dua macam, yaitu
Afirmatif dan
Negatif
Maka dapat dirumuskan menjadi :
1. Proposisi Universal Afirmatif lambangnya A
2. Proposisi Universal Negatif lambangnya E
3. Proposisi Particular Afirmatif lambangnya I
4. Proposisi Particular Negatif lambangnya O

فصل في التناقض
OPPOSISI (PERTENTANGAN)

A. Pengertian opposisi
Tanaqudh (opposisi) ialah pertentangan yang terdapat pada dua proposisi yang mempunyai predikat dan subyek yang sama tetapi berbeda dlam kualitas dan kiantitasnya, sehingga dapat menyebabkan yang lain benar dan yang lain salah. Contoh :
Semua manusia hewan
Sebagian manusia tidak hewan
Santri pondok pesantren berbudi luhur
Santri pondok pesantren tidak berbudi luhur.
Kesimpulan : Salah satunya mesti benar dan yang benar adalah semua manusia adalah hewan,setelah diteliti kebenaranya.
B.Bentuk-Bentuk Opposisi
Skema bentuk opposisi

Opposisi dalam ilmu logika ada empat, yaitu :
1. subkontraris.
Yaitu hubungan antara dua proposisi yang mempunyai subyek dan predikat yanga sama tetapi beda kualitasnya.jadi adalah hubungan antara proposisi I dan O
2. opposisi kontraris
yaitu hubungan yang terdapat antara dua proposisi univeral yang mempunyai predikat dan subyek yang samatetapi beda kualitasnya . jadi adalah hubungan antara proposisiA dan E

3. opposisi subalternasi
yaitu hubungan yang terdapat antara proposisi universal dan proposisi particular yang sama kualitasnya. jadi adalah hubungan antara proposisiA dan I serta E dan O.
4. opposisi kontradiktaris
yaitu pertententangan antara dua proposisi yang mempunyai predikat yang sama, tetapi berbeda kualitas dan kuantitasnya.jadi hubungan antara proposisi A dan O serta I dan E. Bentuk ini adalah opposisi yang sempurna dalam ilmu logika.
Jadwal opposisi
مثال (contoh )
نقيض ( Opposisi)
مثال (contoh )
قضية ( Proposisi )
علي ليس بزعيم
الشحصية السالبة
Individual Negatif
علي زعيم
الشحصية الموجبة
Individual Afirmatif
الإنسان ليس حيوان
المهملة السالبة
General Negatif
الإنسان حيوان
المهملة الموجبة
General Afirmatif
بعض الإنسان ليس حيوان
الجزئية السالبة
Particular Negatif
كل الإنسان حيوان
الكلية الموجبة
Universal Afirmatif
لا شيئ من الإنسان بحيوان
الكلية السالبة
Universal Negatif
بعض الإنسان حيوان
الجزئية الموجبة
Particular Afirmatif

فصل في العكس المستوي
PENGUBAHAN PROPOSISI
Al-Aksu Al-Mustawi ialah pembalikan proposisi dilakukan dengan meubah kedudukan dua bagian, yaitu subyek dan predikat,hingga yang semula menjadi subyek diubah menjadi predikat dan sebaliknya, tanpa mengurangi kebenaran isi,kualitas dan kuantitasnya. Contoh ;
v Asli : Kecepatan transformasi informasi adalah ciri khusus abad modern.
v ‘Aks : Ciri khusus abad modern adalah kecepatan informasi.

A. PROPOSISI YANG TIDAK DAPAT DIBUAT ‘AKS
Semua proposisi dapat dibuatkan ‘aks/pembalikan, kecuali proposisi yang mengandung dua unsur, salibah dan juz’iyah
B. PROPOSISI YANG DAPAT DIBUAT ‘AKS
Pembalikan itu tidak dapat berlaku kecuali pada proposisi yang memiliki Tertib Thabi’ (pasti),proposisi yang memilki tertib ini adalah proposisi kategoris dan proposisi kondisional hipotetis.
Catatan: Tertib Tabi’ ialah sesuatu yang urutanya dapat membentuk makna , dan jika tertib/urutan itu dirubah, tentu maksudnya berubah.
Ringkasnya semua proposisi dapat dibuat ‘aks/pembalikanya, kecuali :
Particular Negatif (الجزئية السالبة)
General Negatif (المهملة السالبة )
Hipotetis Disjunktif (شرطية منفصلة )

المثال (contoh )
العكس (pembalikan)
الأصل (Asli)
الأصل (Asli)
بعض الجماض حجر
الجزئية الموجبة
Paetikular Afirmatif
كل حجر جماد
الكلية الموجبة
Universal Afirmatif
لا شيئ من الحجر بإنسان
الكلية السالبة
Universal Negatif
لا شيئ من الإنسان بحجر
الكلية السالبة
Universal Negatif
بعض الحيوان إنسان
الجزئية الموجبة
Paetikular Afirmatif
بعض الإنسان حيوان
الجزئية الموجبة
Paetikular Afirmatif
×
×
ليس بعض المعدن ذهبا
الجزئية السالبة
Partikular Negatif
بعض الحيوان إنسان
الجزئية الموجبة
Paetikular Afirmatif
الإنسان حيوان
المهملة الموجبة
General Afirmatif
×
×
الإنسان ليس بحجر
المهملة السالبة
General Negatif

JADWAL PROPOSISI KONDISIONAL ( HIPOTETIS ), CONTOH DAN ‘AKS ( PEMBALIKAN) NYA
المثال (contoh )
العكس (pembalikan)
المثال (contoh )
الأصل (Asli)
قد يكون إذا كانت الحرارة موجودة كانت النار موجودة
الجزئية الموجبة
Paetikular Afirmatif
كلما كانت النار موجودة كانت الحرارة موجودة
الكلية الموجبة
Universal Afirmatif
ليس البتة إدا كان هذا ملثا كان مستطيلا
الكلية السالبة
Universal Negatif
ليس البتة إدا كان هذا مستطيلا كان ملثا
الكلية السالبة
Universal Negatif
قد يكون إذا كان الطالب نجحا في الإمتحان فأنه مجتهد
الجزئية الموجبة
Paetikular Afirmatif
قد يكون إذا كان الطالب مجتهدا بأنه نجح في الإمتحان
الجزئية الموجبة
Paetikular Afirmatif
×
×
قد لا يكون إذا كان هذا معدنا كانا ذهبا
الجزئية السالبة
Partikular Negatif

BAB IV
باب في القياس
QIYAS (SILOGISME) DAN HAKEKATNYA
A. PENGERTIAN QIYAS
Istidlal ialah peralian pikiran dari sesuatu yang telah diketaui kpd sesuatu yang belum diketaui dengan menggunakan perkara yang telah diketaui sebagai perantara mengetaui perkara yang belum diketaui.
Istidlal dibagi menjadi dua , yaitu :
1. Al-qiyas adalah suatu bentuk penarikan konklusi secara deduktif tak langsung yang kongklusinya ditarik dari premis yang telah di sediakan secara serempak.contoh :
a. Anda mengutamakan kepentingan negara. (proposisi I)
b. Setiap orang yang mengutamakan kepentingan negara adalahseorang nasionalis. ( proposisi II )
c. Anda adalah seorang nasionalis. ( konklusi)
2. Istidlal Istiqra’i ( induksi ) ialah penyimpulan berdasar penelitian atau uji coba pada bagian-bagian untuk menentukan suatu hukum yang bersifat umum . contoh : Semua logam jika dipanaskan pasti memuai .

B. PEMBAGIAN QIYAS
Qiyas menurut ahli mantiq ada dua bagia, yaitu :
Qiyas Iqtirani disebut juga hamli ( Kategoris )
Qiyas Istisna’i , disebut juga istirati (hipoteis )
1. Qiyas Iqtirani ( silogis Kategoris )
ialah qiyas yang menunjukkan konklusi (نتيجه) dengan tegas dan pasti. Dan khusus ada pada proposisi kategori .contoh :
a. Semua manusia adalh mahluk
b. Semua mahluk akan mati
c. Semua manusia akan mati
2. Aturan-aturan Umum Qiyas Iqtirani
Aturan membuat qiyas iqtirani itu harus menyusun premis-premis dengan menurut aturan yang berlaku , berupa proposisi kategoris dan memperhatikan premis-premis dari kekeliruan. Premis-premis (مقدمات) adalah dasar dari kesimpulan deduktif (qiyas) yang diambil qiyas (silogisme) disusun dari tiga proposisi, yaitu dua proposisi yang diberikan dan konklusi. Dua proposisi pertama disbt dengan premis sedangkan yang ketiga disbt konklusi.
Premis ada dua , yaitu premis sugro (minor) dan premis kubro ( mayor) contoh :
· Arak adalah minuman yang memabukkan ( premis minor)
· Setiap yang memabukkan adalah haram ( premis mayor)
· Arak adalah haram (konklusi/ نتيجه)

Qiyas (silogisme ) itu juga harus mengandung tiga term, yaitu :
1. Term Minor (الحد الاصغر), kata yang menjadi subyek dlm proposisi yang menjadi natijah.
2. Term Penengah (الحد الوسط), kata yang diulang-ulang di dlm dua proposisi,ketika menentukan konklusi term ini dibuang.
3. Term Mayor (الحد الاكبر ), kata yang menjadi predikat dlm proposisi yang menjadi natijah.

Skema konklusi

فصل في الأشكل
BENTUK-BENTUK SILOGISME
A.Pengertian Syakal Dan Dharb
Syakal (الشكل ) artinya bentuk,askhalul qiyas artinya bentuk2 silogisme yang berkaitan dengan term-term yang terdapat pada premis/muqoddimah qiyas, dengan tanpa memperhatikan kualitas dan kuantitas.
Dharb (الضرب) artinya mode (mood) ialah bentuk silogisme yang di tentukan oleh kualitas (الكيف) dan kuantitas ( الكلم)
B. MACAM-MACAM BENTUK SILOGISME
Berdasarkan letak term menengah (الحد الوسط ) tersebut terdapat empat syakal (bentuk) silogisme, yaitu :
الشكل الأول dalam bentuk ini, Term Menengah menjadi Prediket pada premis minor dan subyek pada premis mayor. Contoh :

v Alam raya adalah sesuatu yang berubah
v Sesuatu yang berubah adalah baru
v Alam raya adalah baru.
Kata yang bergaris bawah adalah Term Menengah
الشكل الثاني dalam bentuk ini term menengah menjadi predikat pd premis minor dan pada premis mayor. Contoh :

v Semua kedilan itu kebaikan
v Semua kezhaliman itu bukan kebaikan
v Keadilan bukan kebaikan
Kata yang bergaris bawah adalah Term Menengah
Aturanya : Premis Mayor harus Universal dan salah satu Premis hrs negatif

الشكل الثالث dlam bentuk ini term menengah menjadi subyek pd premis mayor dan pd premis minor. Contoh :
v Semua mahluk berubah
v Semua mahluk binasa
v Sebagian yang berubah akan binasa
Kata yang bergaris bawah adalah Term Menengah
Aturanya : Premis Minor harus Afirmatif dan Konklusinya harus Particular

الشكل الرابع dalm bentuk ini term menengah menjadisubyek pd premis minor dan predikat pd premis mayor,bentuk kebalikan bentuk satu. Contoh :
v Tak satupun mahluk itu abadi
v Sebagian mahluk adalah manusia
v Manusia tidak abadi
Kata yang bergaris bawah adalah Term Menengah
Aturanya : Premis minor afirmatif dan Premis mayor universal negatif
Catatan : Perbedaan letak Premis (مقدمة) tersebut tidak berpngaruh dalam Silogisme

C. MOOD SILOGISME
Dharb (الضرب) artinya mode (mood) ialah bentuk silogisme yang di tentukan oleh kualitas (الكيف) dan kuantitas ( الكلم)
Untuk menelurkan Konklusi yang benar, maka tiap-tiap Syakal/bentuk Silogisme harus memenui syarat-syarat tertentu dibawah ini :
Bentuk Silogisme I ,harus memenui dua syarat, yaitu :
a. Premis Minor harus bersifat afirmatif (موجبة)
b. Premis Mayor harus universal (كلية)
Dengan demikian, maka bentuk I, memiliki empat mood (الضرب) yang menghasilkan konklusi yang valid
Bentuk SilogismeII ,harus memenui dua syarat, yaitu :
a. Salah satu premisnya harus negatif (سالبة)
b. Premis Mayor harus universal (كلية)
Dengan aturan ini bentuk II, memiliki empat mood (الضرب) yang menghasilkan konklusi yang valid
Bentuk SilogismeIII, harus memenui syarat sbb. :
a. Premis Minor harus bersifat afirmatif (موجبة)
b. Salah satu premisnya, baik premis minor atau premis mayor bersifat universal
c. Konklusi mesti khusus
Dengan demikian, maka bentuk III, memiliki enam mood (الضرب) yang menghasilkan konklusi yang valid
Bentuk SilogismeIII, harus memenui syarat sbb. :
a. Tidak terjadi kumpul antara sifat Negatif (سالبة) dan Particular (جزئية)
b. Jika premis Minor Afirmatif Particular ,maka premis Mayor harus Negatif Universal.
Dengan demikian, maka bentukIV, memiliki lima mood (الضرب) yang menghasilkan konklusi yang valid

D. MOOD TIAP SYAKAL YANG MENGHASILKAN NATIJAH
Dalam Silogisme ada dua premis yang membentuknya, maka akan ada 16 mood dalam tiap-tiap syakal. Kalau dalam syakal (bentuk) terdapat 16 mood dan jumlah syakal ada 4, maka jml mood dalam ke-empat bentuk silogisme berjumlah 64 mood. Setelah diteliti ternyata mood yang dapat menghasilkan konklusi yang valid ada 19 mood, yaitu :
Ø Bentuk I : 4 mood, yaitu ; AA-IA-AE-IE
Ø Bentuk II : 4 mood, yaitu : AE-EA-IE-OA
Ø Bentuk III : 6 mood, yaitu : AA-AI-IA-AE-AO-IE
Ø Bentuk IV : 5 mood, yaitu : AA-EA-AI-AE-IE

1. Mood yang valid dari bentuk I .

Jadwal Mood Yang Falid Dari Bentuk I Dalam Lambang
PREMIS
KONKLUSI
NAMA MOOD
MINOR
MAYOR
A
A
A
BARBARA
A
E
E
CLARENT
I
A
I
DARII
I
E
O
FERIO

Term Menengah adalah predikat premis minor dan subyek premis mayor
Model BARBARA
AA= A Semua S adalah M
A Semua M adalah P
A Semua S adalah P
Contoh :
Ø Semua manusia adalah mahluk
Ø Semua mahluk adalh sirna
Ø Semua manusia adalah sirna
Kedua premisnya affirmatif, maka konklusinya juga affirmatif
Model CELARENT
AE = A Semua S adalah M
E Tak satupun M adalah P
E Tak satupun S adalah P
Contoh :
Ø Semua planet adalah bagian dari proses evolusi
Ø Tak satupun proses evolusi yang tidak bergantung pada Alloh sebagai pencipta
Ø Tak satupun planet yang tak bergantung pada Alloh sebagai pencipta
Premisnya negatif, maka konklusi juga negatif
Model DARII
IA = I sebagai S adalah M
A semua M adalah P
I sebagian S adalah P
Contoh :
Ø Sebagian ilmu adalah pernyataan argmentatif.
Ø Semua pernyataan argumentatif selalu dapat diteliti benar dan tidak benar.
Ø Sebagian ilmu dapat diteliti benar dan tidaknya.
Kedu premisnya affirmatif, maka konklusinya jug affirmatif.
Model FERIO
IE = I Sebagian S adalah M
E Tak satupun S adalah M
O Sebagian S tidaklah M
Contoh :
Ø Shalat itu ajaran agama
Ø Tidak satupun ajaran agama itu menyesatkan
Ø Shalat itu tidaklah menyesatkan
Satu premisnya particular dan satunya negatif, maka konklusinya negatif particula
2. MOOD YANG VALD DARI BENTUK II

Jadwal Mood Yang Valid Dari Bentuk II Dalam Lambang
PREMIS
KONKLUSI
NAMA MOOD
MINOR
MAYOR
A
E
E
CESARE
E
A
E
CAMETRES
I
E
O
FESTINO
O
A
O
BAROCO
Dalm bentuk II, Term Menengah (الحد الوسط) adalah prdikat (محمول) dari kedua premisnya. Empat kombinasi mood yang falid :
1. Mood (bentuk) CESARE
AE = A semua S adlah M
A tak satupun P adalah M
E tak satupun S adalah P
Contoh :
Ø Semua pemerintahan yang baik mengayomi rakyatnya
Ø Tak satupun pemerintahan yang zhalim itu mengaayomi rakyatnya
Ø Tak satupun pemerintahan yang zhalim itu mengayomi rakyatnya
2. Mood (bentuk) CAMESTRES
EA = E Tak satupun S adalah M
A Semua P adalah M
E Tak satupun S adalah P
Ø Tak satupun orang yang congkak dicintai orang
Ø Sssemua orang bebudi luhur dicintai orang
Ø Tak satupun orang yang congkak itu berbudi luhur
3. Mood (bentuk) CAMESTRES
IE = I Sebagian S adalah M
E Tak satupun P aadalh M
O Sebagian S adalah P
Ø Sebagian obyek empiris sulit dideteksi
Ø Tak satupun obyek empiris itu bersifat tetap
Ø Sebagian yang sulit dideteksi adalah tidak besifaat tetap
4. Mood (bentuk) BAROCO
OA = O Sebagian S adlah M
A Semua P adalah M
O Sebagian S tidaklah P
Ø Sebagian perbuatan tidak berguna
Ø Semua kegiatan ilmiah berguna
Ø Sebagian perbuatan tidak bersifat ilmiah.

Jadwal Mood Yang Valid Dari Bentuk Ke III Dalam Lambang
PREMIS
KONKLUSI
NAMA MOOD
MINOR
MAYOR
A
A
I
DARAPTI
I
A
I
DATISI
A
I
I
DINAMIS
A
E
O
FLAPTON
I
E
O
PERISON
A
O
O
BOCARDO

Mood (Bentuk) DARAPTI
Ø Setiap Filosof Adalah orang yang bijaksana
Ø Setiap filosof adalah ilmuan
Ø Setiap orang yang bijaksana adlah ilmuan

Mood (Bentuk) DATISI
Ø Sebagian guru besar memiliki pemikiran luas
Ø Sebua guru besar berpendidikan tinggi
Ø Sebagian yang mempunyai pemikiran luas berpendidikan tinggi.

Mood (Bentuk) DINAMIS
Ø Semua buku ilmiah berisi informasi yang berharga bagi kehidupan.
Ø Sebagian buku ilmiyah itu mahal
Ø Sebagian buku yang berisi informasi yang berharga bagi kehidupan harganya mahal.
Mood (Bentuk) FLAPTON
Ø Semua ciptaan allah itu indah
Ø Tak satupun ciptaan allah itu sia-sia
Ø Sebagian yang indah itu tidak sia-sia

Mood (Bentuk) PERISON
Ø Sebagian obyek empiris sulit dideteksi
Ø Tak satupun obyek empiris itu bersifat tetap
Ø Sebagian yang sulit dideteksi adalah tidak besifaat tetap
Mood (Bentuk) BOCARDO
Ø Semua pahlaaawan bangsa adalah orang yang setia kepada negara
Ø Sebagian pahlawan bangsa tidak dikenal identitasnya
Ø Sebagian orang yang setia pada negara tida dikenal identitasnya.

4. MOOD YANG VALID DARI BENTUK IV
Jadwal Mood Yang Valid Dari Bentuk Ke III Dalam Lambang
PREMIS
KONKLUSI
NAMA MOOD
MINOR
MAYOR
A
A
I
BRAMANTIP
A
I
I
FESAPO
E
A
E
FRESISON
A
E
O
DIMARIS
I
E
O
CAMENES
Mood (Bentuk) BRAMANTIP
Ø Semua pencuri adalah penjahat
Ø Setiap perampok adalah pencuri
Ø Sebagian penjahat adalah perampok.
Mood (Bentuk) FESAPO
Ø Semua migas adalah hasil tambang
Ø Sebagian barang eksport indonesia adalah migas.
Ø Sebagian hasil tambsng adalah barang eksport indonesaia.

Mood (Bentuk) FRESISON
Ø Tak satupun kebeenaran ilmu itu ilusi.
Ø Semua kebnaran ilmu itu relatif.
Ø Tak satupun ilusi itu relatif.

Mood (Bentuk)DIMARIS
Ø Setiap orng bodoh sempit pikirnya
Ø Tak satupun pelajar itu orang bodoh.
Ø Sebagian orang yang sempit pikiranya bukan pelajar.
Mood (Bentuk)CAMENES
Ø Sebagaian ilmu itu membahayakan.
Ø Tak satupun ilmu itu sia-sia.
Ø Sebagian yang sia-sia itu tidak membahayakan.

E. ATURAN PROPOSISI KONKLUSI
Apabila premis partikular, maka proposisi yang menjadi natijah harus ada unsur partikular, dan jika premis bersifat negatif , maka natijah juga harus bersifat negatif.
Catatan : asykal (bentuk) silogisme yang empat berlaku secara khusus pada silogis kategoris,dan tidak berlaku pada silogisme hipotetis (qiys syarti)
F. MEMBUANG STRUKTUR SILOGISME
Membuang Premis Minor
v Setiap Pencuri dipotong tanganya
v Maling itu dipotong tanganya.
Lengkapnya ungkapan ini adalah
v Setiap orang yang mengambil harta secaar sembunyi2 adlah maling
v Setap pencuri dipotong tanganya
v Maling itu di potong tanganya
Membuang premis mayor
v Orang ini dipotong tanganya, karena mencuri.
Lengkapnya ungkapan ini adalah
v Orang ini pencuri.
v Setiap pencuri dipotong tanganya.
v Orang ini dipotong tanganya.
Membuang natijah
v Inipencuri, dipotong tanganya.
Lengkapnya ungkapan ini adalah
v Orang ini pencuri.
v Semua pencuri harus dipotong tanganya.
v Orang ini dipotong tanganya.
Membuang premis dan natijah
v Andaikata di langit dan di bumi ada tuhan selain allah, pasti keduanya binasa.
v Tetapi langit dan bumi tidak binasa.
v Di langit dan di bumi tidak ada tuhan selain allah

G. ATURAN DALAM PREMIS
Ø Premis-premis (مقدمات) harus jelas dan teruji kebenaranya dan mempunyai pengertian yang pasti (ضروري )
Ø Premis2 dalam silogisme harus sampai pada suatu kepastian, yang sekiranya tidak membutuhkan pengertian lagi dalam memahami maknanya.

فصل في القياس الإستثنائي
SILOGISME EKSEPSIONAL (QIYAS ISTISNA’I)
A.PENGERTIAN QIYAS ISTISNA’I
Pada permulaan bab telah diterangkan bahwa qiyas ( silogisme) itu ada dua jenis, yaitu :
1. silogisme kategoris (قياس حمل)
2. silogisme hepotetis (قياس شرطي)
Silogisme hepotetis disbt juga dengan silogisme eksepsional ,yaitu silogisme yang premis mayornya terdiri dari pernyataan bersyarat ( قضية شرطية). Yang mengandung huruf istisna’ “ tetapi “. Silogisme hepotetis ialah qiyas yang dapat menunjukkan pad suatu kesimpulan atau kebalikanya dengan jelas
Silogisme hepotetis itu terdiri dari dua premis dan sebuah konklusi.
1. Premis Mayor yaitu setiap proposisi yang didalamnya berisi syarat.letaknya dipermulaan sebelum premis minor.
2. premis minor , yatu setiap proposisi yang menyatakan kualitas salah satu bagian yang ada di dalam premis mayor dan umumnya diawali dengan kata “ tetapi”.
3. konklusi yaitu proposisi yang berisi kelanjutanakibat daripada penegasan atau penindakan didalam premis minor.
Catatan : prenis mayor itu terdiri dari duaabagian, yaitu :
1. antesden(المقدم)
2. konsekuen(التالي)

B. PEMBAGIAN QIYAS ISTISNA’I/SYARTHI
Silogisme hepotetis (قياس شرطي) itu ada dua, yaitu :
1. Qiyas syarthi muttshil dan hukumnya
Memliki hukum-hukum yang berkaitn dngan nataijah,yaitu :
a. dengan menetapkan muqaddam,maka natijahnya pasti berupa penetapan taali. Di rumuskan dengan : P maka Q
conntoh :
Ø premis mayor : jika sesuatu itu emas, maka ia logam.
Ø Premis minor : tetapi (ternyata ) ia emas.
Ø Konklusi : ia (pasti) logam

b. dengan meniadakan taali, maka natijahnya pasti berupa peniadaan muqaddam biasa dirumuskan engan ; q maka p.
contoh :
Ø premis mayor : jika sesuatu itu emas, makaia logam.
Ø Premis minor : tetapiternyata ia bukan logam
Ø Konklusi : ia (paasti) logam.
2. Qiyas Syarthi Munfashil dan hukumnya
yaitu keterangan /proposisi yang premis mayornya terdapat kait pisah, contoh :
Ø Laut adakalanya teduh dan adakalanya bergelombang
Ø Tetapi ia teduh
Ø Laut tidak bergelombang
Hukm-hukumnya :
a. Apabila premis mayor dalam qiyas syarthi munfashil mani’ atau jami’in wa khulluwin, maka penetapan salah satu dari dua bagian qiyas (مقدم atau تالي ), pasti melahirkan natijah ketiadaan bagian yang lain dan sebaliknya.
contoh penetapan salah satu bagian:
Ø Adakalanya kasus itu benar dan adakalanya dusta
Ø Tetapi ia benar
Ø Ia tidak dusta
atau
Ø Tetapi ia dusta
Ø Ia tidak benar
Contoh peniadaan salah satu bagian
Ø Adakalanya berita itu benar dan adakalanya dusta
Ø Tetapi ia tidak benar
Ø Ia dusta
Atau
Ø Tetapi ia tidak dusta
Ø Ia benar

Semoga Bermanfaat.

RIDLO KEPADA TAQDIR

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di penjara manusia terpasang kebebasanya. Ia tidak dapat memperoleh sesuatu yang ia inginkan dan memenuhi hasratnya kecuali hanya sedikit sekali. Ia harus menyantap makanan yang keras, tidur di atas alas tidur yang keras, diperlakukan dengan perlakuan yang kasar, dan memakai pakaian yang kasar. Berbagai hal yang mengganggu dan menjengkelkanpun tidak henti-hentinya mengagetkan para tahanan di segala waktu, siang atau malam.
Ruang gerak di penjara serba terbatas. Sebagian besar waktu tahanan dihabiskan di dalam sel penjara yang sempit. Ketika pintu sel di buka, dia pun keluar dari sel yang sempit menuju ‘anbar, sebuah sangkar besi yang berukuran lebih besar yang memungkinkannya untuk bergerak agak leluasa namun masih tetap terbatas dan terkungkung. Sesekali waktu, ketika pintu ‘anbar, di buka, tahanan mendapati dirinya berada di dalam ruangan terbuka halaman penjara, namun ia tetap saja di kelilingi oleh pagar-pagar yang tinggi, kawat-kawat berduri, dan mata maupun kamera pengawas para penjaga yang memantau dan menangkap gerak gerik tahanan.
Tahanan yang cerdas adalah tahanan yang ridho menerima kondisinya dan menyadari status dirinya, sehingga meletakkan segalah kebutuhannya dalam batas-batas yang disediakan oleh kondisi penjara, menjalani hari demi hari dengan penuh kesabaran dan kepatuhan hingga masa tahanannya berakhir, lalu keluar dan bebas menyongsong dunia yang lapang dan lega.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ridha[1]
Disebutkan dalam sebuah Khabar bahwasannya Nabi Musa as, memohon kepada Allah “Wahai Allah, tunjukanlah kepadaku suatu perkara yang mengandung ridho-Mu agar aku bisa mengerjakannya”. Kemudian Allah menurunkan wahyu kepadanya, “Sesungguhnya ridho-Ku ada dalam sesuatu yang tidak kau suka, dan kau tidak akan bisa sabar menghadapi apa yang tidak kau suka”. Musa terus memohon, “Wahai Tuhan, tunjukanlah kepada hamba apa itu?” Allah menjawab, “Sesungguhnya keridhoan-ku tersimpan dalam keridhoanmu menerima Qodho’ ketetapan-Ku”.
Ahmad bin Abi Al-Hawari bercerita: Aku pernah mendebat Abu Sulaiman Ad-Darani mengenai hadits yang menyatakan bahwa “Rombongan pertama yang di masukkan ke surga adalah para pemuji Allah (Al-hammadun Allah) dalam segala kondisi.” Dia pun berkata kepadaku, “Celaka kau, yang di maksud dengan memuji Allah dalam segala kondisi bukanlah memuji-Nya atas musibah yang menimpamu sementara hatimu hancur-lebur di atasnya. Jika memang demikian, maka aku harap kau termasuk orang-orang yang sabar, akan tetapi ( yang di maksud ) adalah memuji-Nya sementara hatimu pasrah dan ridho.”
Sufyan bin Uyainah pernah di tanya tentang batasan ridho terhadap Allah, ia pun menjawab: orang yang ridho terhadap Allah tidak akan menginginkan selain kedudukan ia sekarang berada.
Para pakar ilmu mengatakan: Kehidupan yang paling nikmat adalah kehidupan orang-orang yang ridho terhadap Allah. Sebab, ridho adalah menyongsong apa yang turun kepadanya dari bala bencana dengan penuh ketaatan dan kecerian, dan menanti apa yang belum turun kepadanya dari bala bencana dengan tafakur dan i’tibar. Baginya, Tuhannya pasti berbuat yang terbaik untuknya, sayang terhadapnya, dan lebih mengetahui apa yang maslahat baginya. Apa pun Qodho’ ketetapan yang turun (menimpanya) ia tidak pernah membencinya, melainkan menyadari sepenuhnya bahwa itulah kehendaknya serta menganggap baik perbuatan dari Tuhannya tersebut. Sehingga jika seseorang menganggap bahwa apa yang turun kepadanya merupakan budi baik ( Ihsan ) Allah, maka ia berarti telah ridho. Jadi, ridho adalah kehendak disertai apresiasi baik bahwa Dia-lah yang menghendaki apa yang ia perbuat, sambil mencintai dan ridho terhadap Allah dengan sepenuh hati.
Ja’far bin Sulaiman Ash-Shun’i bercerita: Suatu hari, ketika Sufyan Ats-Tsuri berada di tempat Robi’ah Al-Adawiyyah, ia berseru, “ Ya Allah ridhoi kami.”Robi’ah menukas, “ Tidakkah kau malu kepada Allah meminta ridho-Nya, sementara kau sendiri tidak ridho terhadap-Nya?!” Sufyan serta-merta berkata,” Astagfirullah, aku memohon ampun kepada Allah.”Aku lalu bertanya kepada Robi’ah, “Kapan seorang hamba menjadi orang yang ridho terhadap Allah?” Ia menjawab, “Jika kebahagiannya menyambut musibah sama seperti kebahagiannya menyambut nikmat.”
Sayyid Ahmad Ar-rifa’i mengatakan Ridho adalah ketentraman hati kepada Sang Maha Bijaksana, dan menyisihkan pilihan sendiri di sertai kepasrahan. Tidak ada sesuatu yang lebih berat atau nafsu diri dari pada keridhoan menerima Qodho’, sebab keridhoan menerima Qodho’ bertentangan dengan nafsu diri ( An-nafsu) dan hawa nafsunya (al-hawa). Maka, beruntunglah hamba yang lebih mengutamakan ridho Allah di atas kepuasan (Keridhoan) pribadinya.
Adapun menurut kamus Ilmu Al Qur’an, Ridha artinya rela ( puas ) dan senang menerima Qada dan Qadar Allah. Dalam ilmu tasawuf, ridha merupakan salah satu maqam bathiniyyah yang harus dilalui oleh seorang sufi dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sikap ridha menurut ahli tasawuf adalah tidak menentang Qada dan Qadar Allah, merasa senang dengan malapetaka yang menimpa dirinya karena dirasakan sebagai nikmat, tidak meminta surga atau dijauhkan diri dari neraka karena cintanya kepada Allah.[2]

Orang yang berhati ridha pada Allah memiliki sikap optimis, lapang dada, kosong hatinya dari dengki, selalu berprasangka baik, bahkan lebih dari itu; memandang baik, sempurna, penuh hikmah, semua yang terjadi semua sudah ada dalam rancangan, ketentuan, dan perbulatan Tuhan.[3]
Berbeda dengan orang-orang yang selalu membuat kerusakan di muka bumi ini, mereka selalu ridha apabila melakukan perbuatan yang Allah haramkan, dalam hatinya selalu merasa kurang apabila meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini mereka perbuat, bermakna merasa puas hati apabila aktivitas hidupnya bisa membuat risau, khawatir, dan selalu mengganggu terhadap sesamanya. Semuanya itu ia lakukan karena mengikut hawa nafsu yang tanpa ia sadari bahwa sebenarnya syaitan telah menjerat dirinya dalam kubangan dosa.[4] Orang-orang yang seperti inilah dengan indahnya Allah telah menjelaskan dalam surat At-Taubah ayat 96 :

“Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, Sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu”.
Dari ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً)
“Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya”.
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan ridha kepada Allah Ta’ala, Rasul-Nya dan agama Islam, bahkan sifat ini merupakan pertanda benar dan sempurnanya keimanan seseorang.[5]
B. Nilai Penting Ridho Sebagai Tingkatan Tertinggi Keimanan[6]
Allah mendeskripsikan status orang-orang yang ridho terhadap-Nya dan kedudukan tinggi serta kemulyaan yang Dia janjikan kepada mereka dalam firman:
أولئك كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ الإيمان وأيَّدَهُمْ برُوحٍ منْهُ ويدخِلهم جنتٍ تجرى من تحتها الأنهارُ خلدين فيها. رضى الله عنهم ورضوا عنه. أولئك حزبَ اللهِ. ألا إنَّ حزب اللهِ همُ المُفلحونَ.
“Mereka itulah orang-orang yang telah menamakan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari pada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridho terhadap mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesunggunya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”( QS. Al-Mujadillah [58]: 22 )
Firman Allah yang lain:
جزآؤهم عند ربهم جنتُ عدنٍ تجرى من تحتها الأنهارُ خلدين فيهآ أبداً, رضى الله عنهم ورضوا عنه.
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga’ Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridho terhadap mereka dan meraka pun ridho kepadanya”. (QS. Al-Bayyinah [98]:8)
Di riwayatkan dari Al-Asy’ats, ia mengatakan: Musa bin Isma’il menceritakan sebuah hadits kepadaku yang di perolehnya pertama dari bapak-bapaknya, dari Ali, katanya, Rasulullah bersabda: Sesunggunya hal yang pertama yang ditulis Allah di dalam Lauhul Mahfuzh adalah ‘Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; Sesunggunya Aku adalah Allah, tiada tuhan selain Aku, tiada sekutu bagi-Ku. Barang siapa pasrah pada Qodho’ ketetapan-ku, maka Aku tulis dia sebagai orang yang benar-benar percaya (shiddiq) dan akan Aku bangkitkan dia kelak pada hari kiamat bersama para Shiddiqin’.
Diriwayatkan oleh Umar dari Nabi, beliau bersabda: Allah berfirman: Seorang pemuda yang mempercayai takdir-Ku, ridho dengan ketetapan-Ku qona’ah menerima rezeki-Ku, meninggalkan syahwat hedonik kesenangan demi Aku, bagi-Ku sama seperti beberapa malaikat-Ku.
Diriwayatkan dari Aisyah ra., dari Nabi beliau bersabda : Barang siapa ridho terhadap Allah, maka Allah ridha terhadapnya.
Di riwayatkan dari Sulaiman bin Al-Mughiroh, ia berkata : Salah satu wahyu yang di berikan Allah kepada Dawud adalah Hai Dawud, sesunggunya kau tidak menghadap-Ku dengan amalan yang lebih bisa membuatku ridho terhadapmu dan lebih bisa menghapus dosamu dari pada ridho dengan Qodho’ ketetapan-Ku, dan kau tidak menghadap-Ku dengan amalan yang lebih memperbesar dosamu dan lebih mengundang kemurkaan-Ku kepada-Mu dari pada sikap angkuh tak kenal terima kasih (al-bathar). Jadi, jauhilah olehmu sikap angkuh tak kenal terima kasih, hai Dawud!
Di riwayatkan dari Wahb bin Munabbah, ia berkata : Aku temukan (firman Allah) di dalam Kitab Zabur Dawud: Hai Dawud, tahukah kau siapa manusia yang paling cepat melintas di atas jembatan shiroth? Mereka adalah orang-orang yang ridho dengan hukum ketentuan-Ku dan bibir mereka selalu basah oleh dzikir kepada-Ku.”
Di riwayatkan dari Umar bin Dzarr, ia bercerita : kami memperoleh khabar bahwa Ummu Darda pernah mengatakan: Sesunggunnya orang-orang yang ridho dengan Qodho’ Allah, yang puas menerima segala yang ditetapkan Allah untuk mereka, memiliki sebuah manar ( tribun bercahaya ) di dalam surga yang di cemburui oleh para syuhada pada hari kiamat kelak.
C. Pandangan Para Tokoh Tentang Ridha[7]
1. Al-Fudhoil bin Iyadh : Derajat ridho terhadap Allah setara dengan derajat Al-Muqorobin (orang-orang yang mendekatkan diri); tidak ada antara mereka dan Allah kecuali ketentraman dan rezeki bala’ bencana dijauhkan dari umat manusia.
2. Dzun An-Nun Al-Mishri : jika kalian ingin menjadi wali abdal, maka cintailah apa yang menjadi kehendak Allah, dan barangsiapa yang menyukai apa yang menjadi kehendak Allah, maka tidak turun kepadanya segala takdir dan hukum ketentuan Allah sedikit pun kecuali ( ia suka terima dengan suka cita )
3. Muzhoffar Al-Qirmisini : Barang siapa yang diberi perlindungan Allah ke dekat-Nya, maka ia harus ridho kepada-Nya dengan segala ketentuan takdir yang berlaku padanya, sebab tidak ada sungut kedongkolan (Tasakhuth) di atas hamparan qurbah ( Kedekatan ).
4. Abdul Wahid bin Zaid : Ridho adalah pintu yang teragung, surga dunia, dan tempat istirahat orang-orang ahli ibadah (Mustaraha al-abidin).
5. Abu Al-Hasan Asy-Syadzili : Ada dua kebaikan yang tidak akan membawa madhorot bersamanya keburukan sebanyak apapun: Ridho menerima Qodho’ ketetapan Allah dan memaafkan hamba-hamba Allah.
6. Sa’id An-Nabbahi : Andai aku diberi do’a yang mustajab, aku tidak akan memohon surga firdaus, akan tetapi aku hanya ingin memohon keridhoan, sebab ia adalah penyegeraan surga di dunia.
7. Abu Abdullah Al-Baratsi : Tidak akan menolak kiamat para pemuncak derajat dari kalangan orang-orang yang ridho, maka ia telah mencapai derajat tertinggi.
8. Diriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq, ia berkata : salah seorang ulama yang tidak disebut namanya pernah di tanya, “Dengan apa gerangan ahli ridho mencapai keridhoan?” Ia menjawab, “Dengan makrifat, dan sesunggunya ridho merupakan salah satu dahan makrifat,”.

D. Tanda – Tanda Ridha[8]
Adapun tanda-tanda ridha, diantaranya:
1. Penyerahan Diri ( At Taslim )
Ibnu Atha’illah mengatakan, bahwa Islam memiliki aspek lahiriah dan bathiniah. Adapun aspek lahiriahnya Al Muwafaqah (menyetujui Allah), sedangkan aspek bathiniahnya adalah ‘Adam Al-Munaza’ah (tidak menentang Allah). Orang Muslim adalah orang yang menyerahkan diri kepada Allah SWT. Adapun realisasi maqam penyerahan diri (Istislam) adalah tidak menentang Allah sama sekali dalam segala keputusan-Nya dan pasrah total kepada-Nya dalam segala bentuk invalidasi dan konfirmasi-Nya. Firman Allah SWT dalam Al Qur’an.

“Dan bagi tiap-tiap umat Telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang Telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, Karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”.(QS. Al Hajj: 34)

2. Meniadakan Tadbir ( Pengurusan ) Urusan Diri
Allah SWT. berfirman:
“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi Telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang Telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati”.(QS. Ali Imran:154)

3. Tanpa Protes
Allah SWT. Berfirman :
ƒ
“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah”.(QS. At Taubah: 58)
4. Tidak Mengangankan Sesuatu yang Tidak Ada
Allah SWT. berfirman:
Ÿ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. An Nisa: 32)
5. Tahan Derita
Allah SWT. Berfirman :

“Dan kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. maukah kamu bersabar? dan adalah Tuhanmu Maha Melihat”. (QS. Al Furqan: 20)
6. Bersyukur
Allah SWT. Berfirman :

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. ( QS. Al Baqarah: 152 )
“Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”. (QS. Al Isra: 1

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ridha artinya rela ( puas ) dan senang menerima Qada dan Qadar Allah. Dalam ilmu tasawuf, ridha merupakan salah satu maqam bathiniyyah yang harus dilalui oleh seorang sufi dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sikap ridha menurut ahli tasawuf adalah tidak menentang Qada dan Qadar Allah, merasa senang dengan malapetaka yang menimpa dirinya karena dirasakan sebagai nikmat, tidak meminta surga atau dijauhkan diri dari neraka karena cintanya kepada Allah.
Adapun tanda-tanda ridho, diantaranya:
1. Penyerahan Diri ( At Taslim )
2. Meniadakan Tadbir ( Pengurusan ) Urusan Diri
3. Tanpa Protes
4. Tidak Mengangankan sesuatu yang tidak ada

Qisoh Abu Lahab

Abu Lahab, Ia Punya Segalanya Tapi Tak Bermanfaat Untuknya
Paman Nabi ﷺ yang hidup di masa kerasulan ada empat orang. Dua orang beriman kepada risalah Islam dan dua lainnya kufur bahkan menentang. Dua orang yang beriman adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan al-Abbas bin Abdul Muthalib radhiallahu ‘anhuma. Satu orang menolong dan menjaganya, tidak menentang dakwahnya, namun ia tidak menerima agama Islam yang beliau bawa. Di adalah Abu Thalib bin Abdul Muthalib. Dan yang keempat adalah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Ia menentang dan memusuhui keponakannya. Bahkan menjadi tokoh orang-orang musyrik yang memerangi beliau ﷺ.

Nama terakhir ini kita kenal dengan Abu Lahab. Dan Alquran mengabadikannya dengan nama itu.

Sifat Fisiknya

Lewat film dan gambar-gambar, Abu Lahab dikenalkan dengan perawakan jelek (tidak tampan) dan hitam. Sehingga kesan garang seorang penjahat begitu cocok dengan penampilannya. Namun, sejarawan meriwayatkan bahwa Abu Lahab adalah sosok yang sangat putih kulitnya. Seorang laki-laki tampan dan sangat cerah wajahnya. Demikianlah orang-orang jahiliyah mengenalnya.

Pelajaran bagi kita, Abu Lahab memiliki nasab yang mulia. Seorang Quraisy. Paman dari manusia terbaik dan rasul yang paling utama, Muhammad ﷺ. Memiliki kedudukan di tengah kaumnya. Memiliki paras yang rupawan. Namun semuanya tidak ada artinya tanpa keimanan. Allah ﷻ hinakan dia dengan mencatatnya sebagai seorang yang celaka. Dan dibaca oleh manusia hingga hari kiamat dalam surat al-Masad.

Sementara Bilal bin Rabah. Seorang budak, hitam, tidak pula tampan, dan jauh dari kedudukan serta kemapanan. Namun Allah ﷻ muliakan dengan keimanan. Oleh karena itu, janganlah tertipu dengan keadaan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Mengapa Ia Disebut Abu Lahab?

Kun-yah dari Abdul Uzza bin Abdul Muthalib adalah Abu Lahab. Lahab artinya api. Karena Abdul Uzza ketika marah, rona wajahnya berubah menjadi merah layaknya api. Dengan kun-yahnya inilah Alquran menyebutnya, bukan dengan nama aslinya. Alasannya:

Pertama: Karena Alquran tidak menyebutkan nama dengan unsur penghambaan kepada selain Allah. Namanya adalah Abdul Uzza yang berarti hambanya Uzza. Uzza adalah berhala musyrikin Mekah.

Kedua: Orang-orang lebih mengenalnya dengan kun-yahnya dibanding namanya.

Ketiga: Imam al-Qurthubi rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya bahwa nama asli itu lebih mulia dari kun-yah. Oleh karena itu, Allah menyebut para nabi-Nya dengan nama-nama mereka sebagai pemuliaan. Dan menyebut Abu Lahab dengan kun-yahnya. Karena kun-yah kedudukannya di bawah nama. Ini menurut al-Qurthubi rahimahullah.

Orang-orang di masanya juga mengenal Abu Lahab dengan Abu Utbah (ayahnya Utbah). Namun karena kekafiran, Allah ﷻ kekalkan nama Abu Lahab untuknya. Sebenarnya ia adalah tokoh Mekah yang cerdas. Sayang kecerdasan dan kepandaiannya tidak bermanfaat sama sekali di sisi Allah, karena tidak ia gunakan untuk merenungkan kebenaran syariat Islam yang lurus.

Anak-anaknya

Abu Lahab memiliki tiga orang anak laki-laki. Mereka adalah Utbah, Mut’ib, dan Utaibah. Dua nama pertama memeluk Islam saat Fathu Mekah. Sedangkan Utaibah tetap dalam kekufuran.

Di antara kebiasaan bangsa Arab adalah menikahkan orang-orang dalam lingkar keluarga dekat. Sebelum menjadi rasul, Rasulullah ﷺ menikahkan anaknya Ummu Kultsum dengan Utaibah dan Ruqayyah dengan Utbah. Ketika surat Al-Masad turun, Abu Lahab mengultimatum kedua putranya, “Kepalaku dari kepala kalian haram, sebelum kalian ceraikan anak-anak perempuan Muhammad!!”, kata Abu Lahab. Ia mengancam kedua putranya tidak akan bertemu dan berbicara kepada mereka sebelum menceraikan putri Rasulullah ﷺ.

Ketika Utaibah hendak bersafar bersama ayahnya menuju Syam, ia berkata, “Akan aku temui Muhammad. Akan kusakiti dia dan kuganggu agamanya. Saat di hadapannya kukatakan padanya, ‘Wahai Muhammad, aku kufur dengan bintang apabila ia terbenam dan apabila ia dekat dan bertambah dekat lagi…’ Lalu Utaibah meludahi wajah nabi kemudian menceraikan anak beliau, Ummu Kultsum.

Nabi ﷺ mendoakan keburukan untuknya, “Ya Allah, binasakan dia dengan anjing dari anjing-anjingmu.” (Dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 4/39). Utaibah pun tewas diterkam singa.

Sementara Abu Lahab mati 7 hari setelah Perang Badr. Ia menderita bisul-bisul di sekujur tubuh. 3 hari mayatnya terlantar. Tak seorang pun yang mau mendekati bangkai si kafir itu. Karena malu, keluarganya menggali lubang kemudian mendorong tubuh Abu Lahab dengan kayu panjang hingga masuk ke lubang itu. Kemudian mereka lempari makamnya dengan batu hingga jasadnya tertimbun. Tidak ada seorang pun yang mau membopong mayitnya, karena takut tertular penyakit. Ia mati dengan seburuk-buruk kematian.

Pasangan Dalam Keburukan

Istri Abu Lahab adalah Ummu Jamil Aura’. Nama yang tak seindah karakter aslinya. Ia diabadikan dalam surat al-Masad sebagai wanita pembawa kayu bakar. Perlakuannya amat buruk terhadap Rasulullah ﷺ. Ia taruh kayu dan tumbuhan berduri di jalan yang biasa dilewati Rasulullah ﷺ di malam hari agar Nabi tersakiti. Ia tak kalah buruk dengan suaminya.

Ummu Jamil adalah wanita yang suka mengadu domba dan menyulut api permusuhan di tengah masyarakat. Ia memiliki kalung mahal dari permata, “Demi al-Lat dan al-Uzza, akan kuinfakkan kalung ini untuk memusuhi Muhammad”, katanya. Allah ﷻ gantikan kalung indah itu dengan tali dari api Jahannam untuk mengikat lehernya di neraka.

Ketika Allah ﷻ menurunkan surat al-Masad yang mencelanya dan sang suami, wanita celaka ini langsung mencari Rasulullah ﷺ. Sambil membawa potongan batu tajam, ia masuk ke Masjid al-Haram. Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar berada di sana. Saat telah dekat, Allah ﷻ butakan pandangannya dari melihat Rasulullah ﷺ. Ia hanya melihat Abu Bakar. Tak ada Muhammad ﷺ di sampingnya.

“Wahai Abu Bakar, aku mendengar temanmu itu mengejekku dan suamiku! Demi Allah, kalau aku menjumpainya akan aku pukul wajahnya dengan batu ini!!” Cercanya penuh emosi.

Kemudian ia bersyair,

مُذمماً عصينا ، وأمره أبينا ، ودينه قلينا

Orang tercela kami tentang
Urusan kami mengabaikannya
Dan agamanya kami tidak suka

Ia ganti nama Muhammad (yang terpuji) dengan Mudzammam (yang tercela). Kemudian ia pergi.

Abu Bakar bertanya heran, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengira dia melihatmu?”

“Dia tidak melihatku. Allah telah menutupi pandangannya dariku”, jawab Rasulullah ﷺ.

Pelajaran:

Pertama: Abu Lahab memiliki segalanya. Ia menyandang nasab mulia, bangsawan dari kalangan bani Hasyim. Terpandang dan memiliki kedudukan di tengah kaumnya. Paman manusia terbaik sepanjang masa. Berwajah tampan. Seorang yang cerdas dan pandai memutuskan masalah. Profesinya pebisnis, mengambil barang dari Syam untuk dipasok di Mekah atau sebaliknya. Tapi sama sekali tidak bermanfaat untuknya. Karena itu, seseorang jangan tertipu dengan dunia yang ia miliki. Apalagi yang tidak memiliki dunia.

Kedua: Penampilan fisik, kedudukan, kekayaan, bukanlah acuan seseorang itu layak diikuti dan didengarkan ucapannya. Karena sering kita saksikan di zaman sekarang, orang kaya lebih didengar dan diikuti daripada para ulama. Ketika motivator bisnis, mereka yang menyandang gelar akademik tinggi, berbicara tentang agama, masyarakat awam langsung menilainya sebuah kebenaran.

Ketiga: Pasangan seseorang itu tergantung kualitas dirinya. Ia bagaikan cermin kepribadian.

Keempat: Hidayah Islam dan iman itu mahal dan berharga. Sebuah kenikmatan yang tidak Allah berikan kepada keluarga para nabi. Anak Nabi Nuh, istri Nabi Luth, ayah Nabi Ibrahim, dan paman Rasulullah Muhammad ﷺ, Abu Thalib dan Abu Lahab, tidak mendapatkan kenikmatan ini. oleh karena itu, kita layak bersyukur. Allah memilih kita menjadi seorang muslim sementara sebagian keluarga para nabi tidak. Pantas kita syukuri nikmat ini dengan mempelajari Islam, mengamalkan, dan mendakwahkannya.

Attaubat Ayat 55

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوٰلُهُمْ وَلَآ أَوْلٰدُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِى الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كٰفِرُونَ ﴿التوبة:٥٥﴾“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedangkan mereka dalam keadaan kafir.” (at-Taubah: 55)

Allah Swt. berfirman kepada Rasul-Nya:

{فَلا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ}

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu.(At-Taubah: 55)

Ayat ini sama dengan firman Allah Swt. yang mengatakan:

{وَلا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى}

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Thaha: 131)

{أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لَا يَشْعُرُونَ}

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (Al-Mu’minun: 55-56)

*******

Adapun firman Allah Swt.:

{إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا}

Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia. (At-Taubah: 55)

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah mereka dibebani untuk membayar zakatnya dan menginfakkan sebagian darinya di jalan Allah (padahal semuanya itu tidak diterima dari mereka).

Qatadah mengatakan bahwa di dalam ayat ini terkandung taqdim dan takhir. Bentuk lengkapnya ialah, “Janganlah kamu terpesona dengan harta dan anak-anak mereka di dalam kehidupan dunia ini. Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk mengazab mereka di akhirat nanti dengan harta dan anak-anak mereka itu.”

Tetapi Ibnu Jarir memilih pendapat yang dikatakan oleh Al-Hasan. Apa yang dikatakan oleh Al-Hasan kuat lagi baik.

*******

Firman Allah Swt.:

{وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ}

dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedangkan mereka dalam keadaan kafir. (At-Taubah: 55)

Artinya, Allah menghendaki agar mereka mati dalam keadaan kafir. Dengan demikian, hal tersebut lebih pedih dan lebih keras bagi siksaan yang akan diterima mereka; semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut. Apa yang disebutkan oleh ayat ini merupakan istidraj bagi mereka.

Kisah Al Jad Bin Qois (Attaubat Ayat :49)

Diriwayatkan oleh Baihaqi dari jalur Ibnu Ishaq, dan Abdullah bin Abu Bakar bin Hazm, yang berkata: Ketika Nabi saw. berangkat untuk berperang, beliau tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda akan berperang, selain pada perang Tabuk.
Rasulullah saw. bersabda, “Wahai manusia, aku ingin memerangi Romawi.”
Kemudian Rasulullah saw. memberitahu mereka tentang maksud beliau. Itu terjadi pada masa paceklik, hawa yang panas, bumi yang kerontang dan buah-buahan yang hampir masak di Madinah. Banyak orang lebih suka menunggu panen buah kurma mereka dan duduk-duduk di bawah pohon kurma yang teduh, mereka merasa keberatan untuk meninggalkannya.
Suatu hari Rasulullah saw. di tengah persiapannya, bersabda kepada al Jad bin Qais, “Hai, Jad ! Apakah engkau mau memukulkan pedangmu dalam memerangi Bani al Ashfar (orang Romawi)?”
Al Jad menjawab, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah saya untuk tidak pergi, dan janganlah engkau mencampakkan saya ke dalam fitnah. Sesungguhnya kaumku sangat mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang lebih bergairah kepada wanita selain saya. Dan saya takut sekiranya saya melihat wanita-wanita Romawi, saya akan tergoda oleh mereka. Oleh karena itu izinkanlah saya untuk tidak pergi, wahaiRasulullah.”
Maka beliau berpaling darinya dan bersabda, “Aku mengizinkanmu.” Maka Allah Swt. mewahyukan ayat berikut ini dalam al Qurán :
“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.’ Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.”
(Qs. at Taubah ayat 49)
Allah menjelaskan bahwa fitnah yang terjadi pada dirinya adalah ketertinggalannya mengikuti Rasulullah saw. dan rasa cinta kepada dirinya sendiri yang lebih besar daripada kepada beliau. Itu termasuk dalam fitnah para wanita Bani al Ashfar yang dia khawatirkan.

Terdapat juga sejumlah lelaki munafik yang berkata, “Janganlah kalian pergi bereperang dalam cuaca yang sangat panas ini.”
Maka Allah berfirman:

“Katakanlan ! Api neraka Jahannam itu lebih sangat panasnya. ….”
(Qs. At Taubah ayat 81)
Kemudian Rasulullah mengadakan persiapan untuk berangkat, memerintahkan manusia supaya berangkat jihad dan menganjurkan agar orang orang kaya membelanjai orang yang tidak mampu dan menyediakan hewan tunggangan dijalan Allah. Maka orang-orang kaya pun berkorban dan menyempurnakan pengorbanan mereka.
Utsman telah mengorbankan hartanya dalam jumlah besar, yang tidak ada orang lain yang berkorban lebih banyak darinya. Ia memberikan dua ratus ekor unta.
Sebagaimana tersebut dalam at Tarikh, Ibnu Katsir (1/108). Al Baihaqi meriwayatkannya dalam kitab as Siyar (juz 9. 33) dari urwah r.a. secara ringkas. Dan hadits ini disebutkan dalam al Bidayah (Juz 5, hal.3) dari Ibnu Ishaq, dari az Zuhri, Yazid bin Ruman, Abdullah bin Abu Bakar, dan Ashim bin Umar.
Diriwayatkan oleh at Thabrani dari Ibnu Abbas r.hum., katanya : Ketika Rasulullah merencanakan untuk berangkat menuju perang Tabuk, beliau berkata pada al Jad bin Qois, “Bagaimana pendapatmu mengenai perang terhadap orang-orang Romawi itu?”
Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya adalah lelaki yang sangat menyukai wanita, dan apabila saya melihat wanita-wanita Romawi, saya pasti akan tergoda olehnya. Apakah engkau mau mengizinkan saya agar duduk saja disini (tidak ikut perang) dan janganlah engkau mencampakan saya kedalam fitnah?”

Maka Allah mewahyukan ayat al Qur’an :

“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.’ Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kaf ir.”
(Qs. at Taubah ayat 49)

SEJARAH AZAZIL : RAJA IBLIS

SEJARAH AZAZIL : RAJA IBLIS

Cerita tentang kesombongan, tentang takabur, tentang selalu berbangga diri, adalah sebuah kisah yang lebih tua dibanding penciptaan manusia. Ia hadir dan berawal ketika manusia masih dalam perencanaan penciptaan. Karena hanya para malaikat makhluk yang diciptakan sebelum manusia, kesombongan sejatinya berhulu dari malaikat. ADALAH Azazil, malaikat yang dikenal penduduk surga karena doanya mudah dikabulkan oleh Allah. Karena selalu dikabulkan oleh Allah, bahkan para malaikat pernah memintanya untuk mendoakan agar mereka tidak tertimpa laknat Allah.

Tersebutlah suatu ketika saat berkeliling di surga, malaikat Israfil mendapati sebuah tulisan “Seorang hamba Allah yang telah lama mengabdi akan mendapat laknat dengan sebab menolak perintah Allah.”

Tulisan yang tertera di salah satu pintu surga itu, tak pelak membuat Israfil menangis. Ia takut, itu adalah dirinya. Beberapa malaikat lain juga menangis dan punya ketakutan yang sama seperti Israfil, setelah mendengar kabar perihal tulisan di pintu surga itu dari Israfil. Mereka lalu sepakat mendatangi Azazil dan meminta didoakan agar tidak tertimpa laknat dari Allah. Setelah mendengar penjelasan dari Israfil dan para malaikat yang lain, Azazil lalu memanjatkan doa.

“Ya Allah. Janganlah Engkau murka atas mereka.”

Di luar doanya yang mustajab, Azazil dikenal juga sebagai Sayidul Malaikat alias penghulu para malaikat dan Khazinul Jannah (bendaharawan surga). Semua lapis langit dan para penghuninya, menjuluki Azazil dengan sebutan penuh kemuliaan meski berbeda-beda.

>Pada langit lapis pertama , ia berjuluk Aabid, ahli ibadah yang mengabdi luar biasa kepada Allah pada langit lapis pertama,
>Di langit lapis kedua, julukan pada Azazil adalah Raki atau ahli ruku kepada Allah,
>Di langit lapis ke tiga, ia berjuluk Saajid atau ahli sujud,
>Di langit ke empat ia dijuluki Khaasyi karena selalu merendah dan takluk kepada Allah,
>Di langit lapis kelima menyebut Azazil sebagai Qaanit Karena ketaatannya kepada Allah,
>Di langit keenam Gelar Mujtahid, karena ia bersungguh-sungguh ketika beribadah kepada Allah.
> Pada langit ketujuh, ia dipanggil Zaahid, karena sederhana dalam menggunakan sarana hidup.

Selama 120 ribu tahun, Azazil, si penghulu para malaikat menyandang semua gelar kehormatan dan kemuliaan, hingga tibalah ketika para malaikat melakukan musyawarah besar atas undangan Allah. Ketika itu, Allah, Zat pemilik kemutlakan dan semua niat, mengutarakan maksud untuk menciptakan pemimpin di bumi.

“Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi.”
begitulah firman Allah.(QS. Al Baqarah : 30)

Semua malaikat hampir serentak menjawab mendengar kehendak Allah.

“Ya Allah, mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi, yang hanya akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau.”(QS. Al Baqarah : 30)

Allah menjawab kekhawatiran para malaikat dan meyakinkan bahwa,

“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah : 30)

Allah lalu menciptakan manusia pertama yang diberi nama Adam. Kepada para malaikat, Allah memperagakan kelebihan dan keistimewaan Adam, yang menyebabkan para malaikat mengakui kelebihan Adam atas mereka. Lalu Allah menyuruh semua malaikat agar bersujud kepada Adam, sebagai wujud kepatuhan dan pengakuan atas kebesaran Allah. Seluruh malaikat pun bersujud, kecuali Azazil.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (Al Baqarah: 34)

Bersemi Sejak di Awal Surga

Sebagai penghulu para malaikat dengan semua gelar dan sebutan kemuliaan, Azazil merasa tak pantas bersujud pada makhluk lain termasuk Adam karena merasa penciptaan dan statusnya yang lebih baik. Allah melihat tingkah dan sikap Azazil, lalu bertanya dengan memberi gelaran baru baginya Iblis. “Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri (takabur) ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi?” Mendengar pernyataan Allah, bukan permintaan ampun yang keluar dari Azazil, sebaliknya ia malah menentang dan berkata,

“Ya Allah, aku (memang) lebih baik dibandingkan Adam. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah.”

Mendengar jawaban Azazil yang sombong, Allah berfirman.

“Keluarlah kamu dari surga. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang diusir”.

Azazil alias Iblis, sejak itu tak lagi berhak menghuni surga. Kesombongan dirinya, yang merasa lebih baik, lebih mulia dan  sebagainya dibanding makhluk lain telah menyebabkannya menjadi penentang Allah yang paling nyata. Padahal Allah sungguh tak menyukai orang-orang yang sombong.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Bibit kesombongan dari Azazil sejatinya sudah bersemai sejak Israfil dan para malaikat mendatanginya agar mendoakan mereka kepada Allah. Waktu itu, ketika mendengar penjelasan Israfil, Azazil berkata,

“Ya Allah! Hamba-Mu yang manakah yang berani menentang perintah-Mu, sungguh aku ikut mengutuknya.”

Azazil lupa, dirinya adalah juga hamba Allah dan tak menyadari bahwa kata “hamba” yang tertera pada tulisan di pintu surga, bisa menimpa kepada siapa saja, termasuk dirinya.
Lalu, demi mendengar ketetapan Allah, Iblis bertambah nekat seraya meminta kepada Allah agar diberi dispensasi. Katanya,

“Ya Allah, beri tangguhlah aku sampai mereka ditangguhkan.”

Allah bermurah hati, dan Iblis mendapat apa yang dia minta yaitu masa hidup panjang selama manusia masih hidup di permukaan bumi sebagai khalifah. Dasar Iblis, Allah yang maha pemurah, masih juga ditawar. Ia lantas bersumpah akan menyesatkan Adam dan anak cucunya, seluruhnya, Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.

” Maka kata Allah, “Yang benar adalah sumpah-Ku dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dengan jenis dari golongan kamu dan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.”

Menular pada Manusia Korban pertama dari usaha penyesatan yang dilakukan Iblis, tentu saja adalah Adam dan Hawa. Dengan tipu daya dan rayuan memabukkan, Nabi Adam as. dan Siti Hawa lupa pada perintah dan larangan Allah. Keduanya baru sadar setelah murka Allah turun. Terlambat memang, karena itu Adam dan Hawa diusir dari surga dan ditempatkan di bumi.

Dan sukses Iblis menjadikan Adam dan Hawa sebagai korban pertama penyesatannya, tak bisa dilihat sebagai sebuah kebetulan. Adam dan Hawa, bagaimanapun adalah Bapak dan Ibu seluruh manusia, awal dari semua sperma dan indung telur. Mereka berdua, karena itu menjadi alat ukur keberhasilan atau ketidakberhasilan Iblis menyesatkan
manusia.

Jika asal usul seluruh manusia saja, berhasil disesatkan apalagi anak cucunya.
Singkat kata, kesesatan yang di dalamnya juga ada sombong, takabur, selalu merasa paling hebat, lupa bahwa masih ada Allah, juga sangat bisa menular kepada manusia sampai kelak di ujung zaman.

Di banyak riwayat, banyak kisah tentang kaum atau umat terdahulu yang takabur menentang dan memperolokkan hukum-hukum Allah, sehingga ditimpakan kepada mereka azab yang mengerikan. Kaum Aad, Tsamud, umat Nuh, kaum Luth, dan Bani Israil adalah sedikit contoh dari bangsa-bangsa yang takabur dan sombong lalu mereka dinistakan oleh Allah, senista-nistanya.

Karena sifat takabur pula, sosok-sosok seperti Fir’aun si Raja Mesir kuno, Qarun, Hamaan dan Abu Jahal juga mendapatkan azab yang sangat pedih di dunia dan pasti kelak di akhirat.

Pada zaman sekarang, manusia sombong yang selalu menentang Allah bukan berkurang, sebaliknya malah bertambah. Ada yang sibuk mengumpulkan harta dan lalu menonjolkan diri dengan kekayaannya. Yang lain rajin mencari ilmu, namun kemudian takabur dan merasa paling pintar.

Sebagian berbangga dengan asal usul keturunan; turunan ningrat, anak kiai, dan sebagainya. Ada juga yang merasa diri paling cantik, paling putih, paling mulus dibanding manusia lain. Mereka yang beribadah, shalat siang malam, puasa, zakat dan berhaji merasa paling saleh dan sebagainya.

Ada yang meninggalkan perintah-perintah Tuhan hanya karena mempertahankan dan bangga dengan budaya warisan nenek
moyang, dan seolah-olah segala sesuatu di luar budaya itu tak bernilai. Tak sedikit juga yang mengesampingkan larangan-larangan Allah hanya karena menguber era laju zaman modern yang selalu dibanggakan. Sebagai manusia, orang-orang semacam itu tak bermanfaat sama sekali.

Mata jasmani mereka memang melihat, tapi mata hatinya sudah buta melihat kebenaran dan kebesaran Allah. Allah telah dijadikan nomor dua, sementara yang nomor satu adalah diri dan makhluk lain di sekitar dirinya. Hati mereka menjadi gelap tanpa nur iman sebagai pelita. Akal mereka tidak dapat membedakan antara yang hak (benar) dengan yang batil (salah).

“Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri (takabur)”
(Al Muddatstsir: 23).

Iblis sebagai pelopor sifat takabur selalu mendoktrin kepada siapa saja sifat takabur, dan mewariskannya kepada jin dan manusia. Tujuannya jelas, untuk menyebarkan sumpah (Iblis) pada golongannya sebagaimana golongan setan dari jenis jin.

 Setan tentu dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa jin, begitu pula setan dari golongan jenis manusia, sangat dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa manusia.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al Araaf: 179).

  Beginilah Dahsyatnya Pertarungan Malaikat dan Iblis

Secara kasat mata, perang Badar al-Kubra dan peperangan-peperangan lainnya terjadi antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir. Tiada yang menginginkan terjadinya peperangan. Apalagi dalam barisan kaum
Muslimin. Mereka melakukan ini karena Allah Ta’ala memerintahkannya. Dan
terkait perintah Allah Ta’ala ini, tiada alasan untuk mengelak, meski diri tidak  menyukainya. Itulah di antara makna terbaik dari kata taat.

Namun, jika melihat lebih mendalam, sejatinya ada pertarungan lain yang
terjadi dalam peperangan Badar. Bukan saja antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, tetapi juga antara malaikat yang mulia dengan iblis nan terlaknat.

Dan rupanya, pertempuran yang tidak bisa diindra ini jauh lebih dahsyat dari pertempuran yang terlihat. Bagaimanakah kejadiannya?

Bahwa Allah Ta’ala menurunkan ribuan malaikat untuk menolong kaum
Muslimin. Ini merupakan satu di antara sekian banyak janji-jani Allah
Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an yang mulia.

‘Abdullah bin ‘Abbas mengatakan, malaikat Jibril menyertakan lima ratus malaikat di salah satu sayapnya. Kemudian malaikat Mikail menyertainya dengan membawa lima ratus pasukan malaikat di sayapnya yang lain.

Ketika perang hendak berkecamuk, setan yang mewujud dalam sosok bernama
Suraqah bin Malik berkata secara lantang guna menyemangati orang-orang
kafir. Katanya pongah, “Tiada satu kaum pun yang mengalahkan kalian pada
hari ini. Sungguh, aku akan menjadi pelindung bagi kalian.”

Rupanya, kalimat motivasi itu hanyalan bualan. Pasalnya, saat menyaksikan malaikat Jibril dan pasukannya, setan dan seluruh bala tentara laknatnya kabur tanpa permisi. “Ke mana kalian akan pergi?”
tanya seseorang kepada setan yang mewujud dalam sosok Suraqah bin Malik.

Dengan ketakutan dan cemas yang menyeruak, Suraqah menjawab, “Sungguh,
aku berlepas diri dari kalian semua. Aku bisa melihat apa yang tidak kuasa kalian saksikan.” Mereka kabur setelah sebelumnya berteriak menyemangati. Mereka bergegas pergi setelah sebelumnya meniupkan bualan
kepada pasukan-pasukannya dari kalangan jin dan manusia.

Lantas, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sosok Suraqah bin Malik
dalam perang Badar adalah setan? “Ketika berita (kaburnya Suraqah bin Malik dari perang Badar) itu didengar oleh Suraqah bin Malik,” tutur Syeikh Ibnu Muflih al-Maqdisi, “dia (Suraqah bin Malik) membantah.” Kata
Suraqah, “Aku baru mendengar berita kepergian kalian untuk berperang setelah kalian kalah.”

Artinya, Suraqah sama sekali tidak terlibat sedikit pun dalam perang Badar. Karenanya, jika ada sosok yang kini kita dapati sangat antuasias dalam memperjuangkan keburukan dan memprovokasi masyarakat untuk turut
serta di dalamnya, mungkin kita perlu banyak membaca taawudz dan Ayat
Kursi, siapa tahu ia merupakaan jelmaan setan yang terlaknat.
Na’udzubillah.

  Ketika Iblis Dilaknat Allah SWT, Malaikat Jibril Dan Mikail Menangis

Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali mengatakan bahwa iblis dulunya adalah hamba-hamba Allah SWT yang ta’at kepadaNya. mereka memiliki beberapa nama sesuai dengan tempat tinggalnya di langit.

Mereka yang tinggal di langit yang pertama disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah), pada langit yang keduanya disebut az-Zahid. Pada langit ketiga,namanya disebut al-Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al-Wali.
Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi.

 Pada langit keenam namanya disebut al-Khazin. Pada langit ketujuh namanya disebut Azazil dan selama 1000 Tahun mereka rajin taat beribadah sujud non stop kepada Allah, bahkan pernah menjadi Sayyidul Malaikat (Penghulu atau Pemimpin para Malaikat).

Suatu ketika, Allah SWT telah memerintahkan iblis sujud kepada Nabi
Adam. Lalu iblis berkata, “Adakah Engkau lebih mengutamakannya daripada
aku, sedangkan aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api dan
Engkau jadikan Adam dari tanah.”

Lalu Allah SWT berfirman yang maksudnya, “Aku menciptakan apa yang Aku kehendaki.” karena iblis memandang dirinya penuh keagungan, maka dia enggan sujud kepada Adam AS karena merasa bangga dan sombong.

Dia berdiri tegak sampai saatnya malaikat bersujud dalam waktu yang lama. Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka mendapati iblis tidak sujud sedang mereka telah selesai sujud.

Maka para malaikat bersujud lagi bagi kali kedua karena bersyukur, tetapi iblis tetap angkuh dan enggan sujud. Dia berdiri tegak dan memalingkan mukanya dari para malaikat yang sedang bersujud. Dia tidak
ingin mengikuti mereka dan dia tidak merasa menyesal karena keengganannya.

Kemudian Allah SWT merubah mukanya dari aslinya yang sangat indah menjadi seperti babi hutan. Allah SWT merubah kepalanya menjadi seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung,
wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya.

Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai. Setelah itu, Allah mengusirnya
dari surga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan dengan cara sembunyi-sembunyi.

Allah SWT telah melaknatnya hingga hari kiamat kerana dia telah ingkar dan kufur. Walaupun sebelumnya iblis sangat indah rupawan, mempunyai empat sayap, banyak ilmu, rajin ibadah, menjadi kebanggaan para malaikat serta menjadi pemimpin para malaikat muqarrabin, tetapi semua itu tidak
menjadi jaminan sama sekali baginya.

Ketika Allah SWT membalas tipu daya iblis, maka menangislah Malaikat Jibril dan Mikail. Lalu Allah SWT berfirman, “Apakah yang membuat kamu menangis?”

Lalu mereka menjawab, “Ya Allah! Kami tidaklah aman dari tipu dayamu. ”

Firman Allah, “Begitulah Aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu
dayaKu.”

Setelah diusir, kemudian iblis berkata, “Ya Tuhanku, Engkau telah mengusir aku dari Surga disebabkan Adam, dan aku tidak bisa menguasainya melainkan dengan penguasaanMu.”

Lalu Allah berfirman, “Engkau akan dikuasakan atas dia, yakni atas anak
cucunya, kecuali para Nabi, sebab para nabi adalah maksum.”

Iblis berkata lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.”

Allah berfirman, “Tidak akan dilahirkan seorang anak bagi manusia
kecuali tentu dilahirkan untukmu dua padanya.”

Iblis berkata lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.”

Lalu Allah berfirman, “Dada-dada mereka adalah rumahmu, engkau bisa
berjalan di sana sejalan dengan peredaran darah manusia.”

Iblis berkata lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.”

Maka Allah berfirman, “Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda
dan pasukan yang berjalan kaki, artinya mintalah tolong menghadapi
mereka dengan pembantu-pembantumu, baik yang naik kuda maupun yang
berjalan kaki. Dan berserikatlah dengan mereka pada harta, yaitu
mendorong mereka mengusahakannya dan mengarahkannya ke jalan yang haram.”

“Dan pada anak-anak, yaitu dengan menganjurkan mereka dalam membuat
perantara mendapat anak dengan cara yang dilarang, seperti melakukan senggama dalam masa haid, berbuat perkara-perkara syirik mengenai anak-anak itu dengan memberi nama mereka Abdul Uzza, menyesatkan mereka dengan cara mendorong ke arah yang batil, mata pencaharian yang tercela
dan perbuatan-perbuatan yang jahat.

“Dan gerakkanlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan  ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka” (QS. Al-Isra ayat 64)

Maksud ayat diatas ialah bahwa Allah SWT memberi kesempatan kepada iblis untuk menyesatkan manusia dengan segala kemampuan yang ada padanya.

Tetapi segala tipu daya syaitan itu tidak akan mampu menghadapi orang-orang yang benar-benar beriman.

Dari kisah diatas kita bisa mendapatkan satu pelajaran penting bahwa Iblis yang dulunya merupakan ahli Ibadah sekalipun bisa menjadi makhluk yang dilaknat oleh Allah karena kesombongannya. Oleh karena itu, sudah semestinya kita sebagai orang yang beriman, hendaknya menjauhi sifat-sifat Iblis seperti sombong, angkuh iri dengki dan yang lainnya agar dijauhkan dari laknat Allah. Amiin.

=============

TERJEMAH BAHASA INDONESIA “NASHOIHUL ‘IBAD”

TERJEMAH BAHASA INDONESIA
“NASHOIHUL ‘IBAD”

Alhamdulillah, dan pada akhirnya setiap santri maupun orang awam pun bisa mengkaji kitab yang sangat populer karangan  Al Alim Alamah Syaikhina Nawawi Al Bantany. Semoga denga sajian Kitab Kuning Nashoihul Ibad Versi Terjemahan ini bisa dirasakan semua kalangan, Khususnya umat Islam. Amin Yaa Robbal ‘alamin.

Bismillahirahmanirahim, Qola Mu’alif Rohimakumullah Wa’anfaana Fi
‘ulumihi Fidaroini Amin.

Maqolah 1

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda (Ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama muslim).
Baik degan ucapan atau kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan badannya.

Rasuulullah SAWW bersabda, (barang siapa yang pada waktu pagi hari tidak mempunyai niat untuk menganiaya terhadap seseorang maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa pada waktu pagi hari memiliki niat memberikan pertolongan kepada orang yang dianiaya atau memenuhi hajat orang islam, maka baginya mendapat pahala seperti pahala hajji yang mabrur).

Dan Nabi SAW bersabda (Hamba yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling utama adalah membahagiakan hati orang mukmin dengan menghilangkan laparnya, atau menghilangkan kesusahannya, atau membeyarkan hutangnya. Dan ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari dua tersebut yaitu syirik kepaad Allah dan mendatangkan bahaya kepada kaum muslimin).

Baik membahayakan atas badannya, atau hartanya. Karena sesungguhnya semua perintah Allah kembali kepada dua masalah tersebut. Mengagungkan Allah dan berbuat baik kepada makhluknya, sebagaimana firman Allah Ta’ala Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan firman Allah Ta’ala
Hendaklah kamu bersyukur kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu.

Maqolah 2

Nabi SAW bersabda, (wajib bagi kamu semua untuk duduk bersama para ‘Ulama) artinya yang mengamalkan ilmunya, (dan mendengarkan kalam para ahli hikmah) artinya orang yang mengenal Tuhan.

(Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah-ilmu yang bermanfaat- sebagaimana Allah menghidupkan bumu yang mati dengan air hujan). Dan dalam riwayat lain dari Thabrani dari Abu Hanifah “Duduklah kamu dengan orang dewasa, dan bertanyalah kamu kepada para ‘Ulama dan berkumpulah kamu dengan para ahli hikmah” dan dalam sebuah riwayat, “duduklah kamu degan para ulama,
dan bergaulah dengan kubaro’ ”.

Sesungguhnya Ulama itu ada dua macam, 1.
orang yang alim tentang hukum-hukum Allah, mereka itulah yang memiliki
fatwa, dan 2. ulama yang ma’rifat akan Allah, mereka itulah para hukama’ yang dengan bergaul dengan mereka akan dapat  memperbaiki akhlak, karena sesungguhnya hati mereka telah bersinar sebab ma’rifat kepada Allah demikian juga sirr  rahasia mereka telah bersinar disebabkan nur
keagungan Allah.

Telah bersabda Nabi SAW, akan hadir suatu masa atas umatku, mereka menjauh dari para ulama dan fuqaha, maka Allah akan
memberikan cobaan kepada mereka dengan tiga cobaan,

1. Allah akan menghilangkan berkah dari rizkinya.

2. Allah akan mengirim kepada mereka
penguasa yang zalim

3. Mereka akan keluar meninggalkan dunia tanpa membawa iman kepada Allah Ta’ala Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Maqolah 3

Dari Abi Bakar As-Shiddiq RA (Barang siapa yang memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu berupa amal shalih maka keadaannya seperti orang yang menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu).

Maka sudahlah pasti ia akan tenggelam dengan se tenggelam-tenggelamnya dan tidak mungkin akan selamat kecuali mendapatkan pertolongan oleh orang-orang yang dapat menolongnya.. sebagaimana sabda Rasulullah SAW, tidaklah seorang mayat yang meninggal itu, melainkan seperti orang yang tenggelam yang meminta
pertolongan.

Maqolah 4

Dari ‘Umar RA, -dinukilkan dari Syaikh Abdul Mu’thy As-sulamy,
sesungguhnya Nabi SAW bertanya kepada Jibril AS, ‘Beritahukan kepadaku
sifat kebaikan sahabat ‘Umar’. Maka Jibril menjawab, ‘Jika saja lautan
dijadikan tinta dan tumbuh-tumbuhan dijadikan pena niscaya tidak akan
uckup melukiskan sifat kebaikannya. Kemudian Nabi bersabda, beritahukan
kepadaku kebaikan sifat Abu Bakar,”. Maka Jibril menjawab, ”’Umar
hanyalah satu kebaikan dari beberapa kebaikan Abu Bakar RA.
‘Umar RA berkata, (kemuliaan dunia dengan banyaknya harta. Dan kemuliaan
akhirat adalah dengan bagusnya amal). Maksudnya, urusan dunia tidak akan
lancar dan sukses kecuali dengan dukungan harta benda.

Demikian pula perkara akhirat tidak akan menjadi sempuran kecuali dengan amal
perbuatan yang baik.

Maqolah 5

Dari ‘Utsman RA. (menyusahi dunia akan menggelapkan hati. Dan menyusahi akhirat akan menerangkan hati). Artinya, menyusahi urusan yang berhubungan dengan urusan dunia maka akan menjadikan hati menjadi gelap.

Dan menyusahi perkara yang berhubungan dengan urusan akhirat akan menjadaikan hati menjadi terang. Yaa Allah jangan jadikan dunia sebesar-besar perkara yang kami susahi, dan bukan pula puncak ilmu kami.

Maqolah 6

Dari ‘Aly RA wa KarramaLlaahu Wajhah. (Barang siapa yang mencari ilmu maka surgalah sesungguhnya yang ia cari. Dan barang siapa yang mencari ma;siyat maka sesungguhnya nerakalah yang ia cari) Artinya barang siapa yang menyibukkan diri denagn mencari ilmu yang bermanfaat, yang mana tidak boleh tidak bagi orang yang aqil baligh untuk mengetahuinya maka
pada hakekatnya ia mencari surga dan mencari ridho Allah SWT.

Dan barang siapa yang menginginkan ma’siyat, maka pada hakekatnya nerakalah yang ia cari, dan kemarahan Allah Ta’ala.

Maqolah 7

Dari Yahya bin Muadz RA. (Tidak akan durhaka kepada Allah orang-orang yang mulia) yaitu orang yang baik tingkah lakunya Yaitu mereka yang memuliakan dirinya dengan menghiasinya dengan taqwa dan menjaga diri dari ma’siyat.

(Dan tidak akan memilih dunia dari pada akhirat orang-orang yang bijaksana) Artinya orang bijak  hakiim tidak akan mendahulukan atau mengutamakan urusan dunia dari pada urusan akhirat.

Adapun orang hakiim adalah orang yang mencegah dirinya dari pada bertentangan dengan kebenaran akal sehatnya.

Maqolah 8

Dari A’Masy, naam lengkapnya adalah Abu Sulaiman bin Mahran AL-Kuufy RA.
(Barang siapa yang bermodalkan taqwa, maka kelulah lidah untuk menyebutkan sifat keberuntungannya dan barang siapa yang bermodalkan dunia, maka kelulah lidah untuk menyebut sebagai kerugian dalam hal
agamanya).

Artinya barang siapa yang bermodalkan taqwa dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya dimana dasar dari amal perbuatannya adalah selalu bersesuaian dengan syari’at, maka baginya
pasti mendapatkan kebaikan yang sangat besar tanpa dapat dihitung dalam hal kebaikan yang diperolehnya.

Dan kebalikannya barang siapa yang perbuatannya selalu berseberangan dengan hukum syari’at, maka baginya kerugian yang sangat besar bahkan lidahpun sampai tidak dapat menyebutkannya.

Maqolah 9

Diriwayatkan dari Sufyan Atsauri, beliau adalah guru dari Imam Malik RA.

( Setiap ma’siyat yang timbul dari dorongan syahwat yaitu keinginan yangteramat sangat akan sesuatu maka dapat diharapkan akan mendapat ampunanNya.

Dan setiap ma’siyat yang timbul dari takabur atau sombong yaitu mendakwakan diri lebih utama atau mulia dari yang lain , maka maksiyat yang demikian ini tidak dapat diharapkan akan mendapat ampunan
dari Allah). Karena maksiyat iblis berasal dari ketakaburannya yang tidak mau hormat kepada Nabi Adam AS atas perintah Allah dimana ia menganggap dirinya lebih mula dari Nabi Adam AS yang diciptakan dari
tanah sedangkan iaiblis diciptakan dari api.

 Dan sesungguhnya kesalahan Nabi Adam AS adalah karena keinginannya yang teramat sangat untuk memakan buah yang dilarang oleh Allah untuk memakannya.

Maqolah 10

Dari sebagian ahli zuhud yaitu mereka yang menghinakan kenikmatan dunia dan tidak peduli dengan nya akan tetapi mereka mengambil dunia sekedar dharurahdarurat sesuai kebutuhan minimumnya.

(Barang siapa yang melakukan perbuatan dosa dengan tertawa bangga, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan menangis- karena seharusnya
ia menyesal dan memohon ampunan kepada Allah bukannya berbangga hati.

Dan barang siapa yang ta’at kepada Allah dengan menangis- karena malu kepada Allah dan Takut kepadaNya karena merasa banyak kekurangan dalam hal ta’at kepaadNya Maka Allah akan memasukkanNya ke dalam surga dalam keadaan tertawa gembira. ) dengan sebenar-benar gembira karena mendapatkan apa yang menjadi tujuannya selama ini yaitu ampunan dari Allah.

Maqolah 11 Maqolah ke sebelas : dari sebagian ahli hikmah  Aulia’ (Janganlah kamu menyepelekan dosa yang kecil) kerana dengan selalu menjalankannya maka lama kelamaa akan tumbuhlah ia menjadi dosa besar.

Bahkan terkadang murka Tuhan itu ada pada dosa yang kecil-kecil.

Maqolah 12

Dari Nabi SAW : (Tidaklah termasuk dosa kecil apabila dilakukan secara terus menerus) karena dengan dilakukan secara terus menerus, maka akan menjadi besarlah ia. (Dan tidaklah termasuk dosa besar apabila disertai dengan taubat dan istighfar) Yaitu taubat dengan syarat-syaratnya.

Karena sesungguhnya taubat dapat menghapus bekas-bekas dosa yang dilakukan meskipun yang dilakukan tersebut dosa besar. Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-dailamy dari Ibni Abbas RA.

Maqolah 13

(Keinginan orang arifiin adalah memujiNya) maksudnya keinginan orang ahli ma’rifat adalah memuji Allah Ta’ala dengan keindahan sifat-sifatnya.

(dan keinginan orang-orang zuhud adalah do’a kepadaNya) yaitu permintaan kepaad Allah sekedar hajat kebutuhannya dari
dunia dengan segenap hatinya, dimana yang dimaksud do’a adalah meminta dengan
merendahkan diri kepadaNya dengan memohon diberi kebaikan kepadanya.

(Karena keinginan orang arif ahli ma’rifat dari Tuhannya bukanlah pahala ataupun surga) sedangkan keinginan orang zuhud adalah untuk kepentingan dirinya sendiri, yaitu untuk kemanfatan dirinya dari pahala
dan surga yang didapatkannya.

 Maka demikianleh perbedaan orang yang
keinginan hatinya mendapatkan bidadarii dan orang yang cita-citanya adalah keterbukaab hatinya.

Maqolah 14

(diriwayatkan dari sebagian hukama’) yaitu orang yang ahli mengobati jiwa manusia, dan mereka itulah para wali Allah. -(Barang siapa yang menganggap ada pelindung yang lebih utama dari Allah maka sangat sedikitlah ma’rifatnya kepada Allah) Maknanya adalah barang siapa yang menganggap ada penolong yang lebih dekat daripada pertolongan Allah, maka maka sesungguhnya dia belul mengenal Allah.

(Danbarang siapa yang menganggap ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsunya sendiri, maka sedikitlah ma’rifatnyapengetahuannya tentang nafsunya) Artinya adalah brang siapa yang berperasangka ada musuh yang lebih kuat dari pada hawa nafsunya yang selalu mengajak kepada kejahatan, maka sedikitlah ma’rifatnyapengetahuannya akan hawa nafsunya sendiri.

Maqolah 15

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Menafsiri firman Allah Ta’ala, “Sungguh telah nyatalah kerusakan baik di daratan maupun di lautan, maka beliau memberikan tafsirannya (Yang dimaksud Al-Barrdaratan adalah lisan.
Sedangkan yang dimaksud Al-Bahr  lautan adalah hati).

Apabila lisan telah rusak dikarenakan mengumpat misalnya, maka akan menangislah diri seseorang  anak cucu adam.

Akan tetapi apabila hati yang rusak isebabkan karena riya’ misalnya, maka akan menangislah malaikat. Dan diperumpamakan hatiqalb dengan lautan adalah dikarenkan sangat dalmnya hati itu.

Maqolah 16

(Dikatakan, karena syahwat maka seorang raja berubah menjadi hamba sahayabudak) karena sesungguhnya barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akna menjadi hamba dari sesuatu yang dicintainya. (dan sabar akan membuat seorang hamba sahaya berumab menjadi seorang raja) karena
seoang hamba dengan kesabarannya akan memperoleh apa yang ia inginkan.

(apakah belum kita ketahui kisah seorang hamba yang mulia putra seorang yang mulia, putera seorang yang mulia Sayyidina Yusuf AS Ash-Shiddiq, putera Ya’qub yang penyabar, putera Ishaq yang penyayang, putera Ibrahim Al-Khalil AS dengan Zulaikha. Sesungguhnya ia zulaikha sangat cinta kepada Sayyidina Yusuf AS dan Sayyidina Yusuf bersabar dengan tipu dayanya.

Maqolah 17

(Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin) dengan mengikuti petunjuk akalnya yang sempurna (sedangkan hawa nafsunya menjadi tahanan) (dan celakalah bagi orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai penguasanya, dengan melepaskannya dalam menuruti apa yang di
inginkannya, sedangkan akalnya menjadi hambanya yaitu akal tersebut terhalang untuk memikirkan ni’mat Allah dan keagungan ALlah).

Maqolah 18

(Barang siapa yang meninggalkan perbuatan dosa, maka akan lembutlah hatinya), maka hati tersebut akan senang menerima nasihat dan ia khusyu’memperhatikan akan nasihat tersebut. (Barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang haram) baik dalam hal makanan, pakaian dan yang lainnya (dan ia memakan sesuatu yang halal maka akan jerniglah pikirannya) didalam bertafakur tentang semua ciptaan Allah yang menjadi
petunjuk akan adanya Allah Ta’ala yang menghidupkan segala sesuatu setelah kematiannya demikian pula menjadi petunjuk akan keEsaan Allah dan kekuasaanNya dan ilmuNya.

Dan yang demikian ini terjadi apabila ia
mempergunakan fikirannya dan melatih akalnya bahwa Allah SubhanaHu Wata’ala yang menciptakan dia dari nuthfah di dalam rahim, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemujdian Allah menjadikan tulang dan daging dan urat syaraf serta menciptakan
anggota badan baginya.

Kemudian Alah memberinya pendengaran, penglihatan dan semua anggota badan, kemudian Allah memudahkannya keluar sebagai janian dari dalam rahim ibunya, dan memberinya ilham untuk menyusu ibunya, dan Allah menjadikannya pada awwal kejadian dengan tanpa gigi gerigi kemudian Allah menumbuhkan gigi tersebut untuknya, kemudian Allah menanggalkan gigi tersebut pada usia 7 tahun kemudian Allah menumbuhkan kembali gigi tersebut.

Kemudian Allah menjadikan keadaan hambanya selalu berubah dari kecil kemudian tumbuh menjadi besar dan dari muda berubah menjadi tua renta dan dari keadaan sehat berubah menjadi sakit.

Kemudian Alah menjadikan bagi hambaNya pada setiap hari mengalami tidur dan jaga
demikian pula rambutnya dan kuku-kukunya manakala ia tanggal maka akan tumbuh lagi seperti semula.

Demikian pula malam dan siang yang selalu bergantian, apabila hilang yang satu maka akan disusul dengan timbulnya yang lain.

Demikian pula dengan adanya matahari, rembulan, bintang-bintang dan awan dan hujan yang semuanya datang dan pergi.

Demikian pula bertafakur tentang rembulan yang berkurang pada setiap malamnya, kemudian menjadi purnama, kemudian berkurang kembali. Seperti itu pula pada gerhana matahari dan rembulan ketika hilang cahayanya keudian cahaya itu kembali lagi.

Kemudian berfikir tentang bumi yang
gersang lagi tandus maka Allah menumbuhkannya dengan berbagai macam
tanaman, kemudian Allah menghilangkan lagi tanaman tersebut kemudian menumbuhkannya kembali. Maka kita akan dapat berkesimpulan bahwa Allah Dzat yang mampu berbuat yang sedemikian ini tentu mampu untuk menghidupkan sesuatu yang telah mati.

Maka wajib bagi hamba untuk selalu
bertafakur pada hal yang demikian sehingga menjadi kuatlah imannya akan hari kebangkitan setelah kematian, dan pula ia mengetahui bahwa Allah pasti  membangkitkannya da membalas segala amal perbuatannya. Maka dengan
seberapa imannya dari hal yang demikian yang membuat kita bersungguh-sungguh melaksanakan ta’at atau menjauhi ma’siyat.

Maqolah 19

Telah diwahyukan kepada sebagian Nabi ( Ta’atlah kepadaKu akan apa yang Aku perintahkan dan janganlah bermaksiyat kepadaku dari apa yang Aku nasehatkan kepadamu). Artinya dari nasihat yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebaikan dan dengan apa yang dilarang maka seorang hamba akan tehindar dari kerusakan.

Maqolah 20

(Dikatakan sesungguhnya kesempurnaan akal adalah mengikuti apa yang diridhai Allah dan meninggalkan apa yang dimurkai Allah). artinya apa saja yang tidak seperti konsep di atas adalah kegilaan  tak berakal.

Maqolah 21

(Tidak ada keterasingan bagi orang yang mulia akhlaknya, dan tidak ada tempat yang terhormat bagi orang-orang yang bodoh ). Artinya seseorang yang bersifat memiliki ilmu dan amal maka sesungguhnyania akan dihormati diantarea manusia di mana saja berada. Oleh karena itu di mana saja
berada layaknya mereka seperti di negeri sendiri dan dihormati.

Sebaliknya orang yang bodoh adalah kebalikannya meskipun di negeri sendiri mereka merasa asing.

Maqolah 22

Barang siapa yang baik dalam keta’atannya kepada Allah maka dia akan terasing diantara manusia). Artinya orang yang merasa cukup dengan menyibukkan seluruh waktunya untuk ta’at kepadan Allah maka ia akan terasing diantara manusia.

Maqolah 23

(Dikatakan bahwa gerakan badan melakukan keta’atan kepada ALlah adalah petunjuk tentang kema’rifatan seseorang sebagaimana gerakan anggota badan menunjukkan  sebagai dalil adanya kehidupan di dalamnya).

Artinya, bahwa ekspresi ketaatan serang hamba dalam menjalankan perintah Allah maka yang demikian itu adalah petunjuk a dalil kema’rifatannya kepada ALlah. Apabila banyak amal ta’at maka menunjukkan bahwa banyak pula ma’rifatnya kepada Allah dan apabila sedikit ta’at, maka menunjukkan pula sedikit ma’rifat, karena sesungguhnya apa yang lahir merupakan cermin dari apa yang ada di dalam bathin.

Maqolah 24

Nabi SAW bersabda, (Sumber segala perbuatan dosa adalah cinta dunia,) dan yang dimaksud dari dumia adalah sesuatu yang lebih dari sekedar kebutuhan. (Dan sumber segala fitnah adalah mencegah  tidak mau mengeluarkan sepersepuluh dan tidak mau mengeluarkan zakat).

Maqolah 25

(Mengaku merasa kekurangan dalam melakukan ta’at adalah selamanya terpuji dan mengakui akan kekurangan  kelemahan dalam melakukan ta’at adalah tanda-tangda diteimanya amal tersebut) karena dengan demikian menunjukkan tidak adanya ujub dan takabur di dalamnya.

Maqolah 26

(Kufur ni’mah adalah tercela) maksudnya adalah dengan tidak adanya syukur ni’mat menunjukkan rendahnya nafsu. (dan berteman dengan orang bodoh) yaitu orang yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya padahal ia mengetahui akan keburukan sesuatu tersebut. (adalah keburukan) yaitu tidak membawa berkah .

Oleh karena itu janganlah berteman dengannya disebabkan karena buruknya akhlak  keadaan tingkah lakunya karena
sesungguhnya tabi’at itu dapat menular.

Maqolah 27

Disebutkan dalam syair….Wahai yang disibukkan oleh dunia Sungguh panjangnya angan-angan telah menenggelamkan mereka Bukankah mereka selalu dalam keadaan lupa – kepada Allah Hingga dekatlah ajal bagi
mereka Sesungguhnya kematian datangnya mendadak Dan kubur adalah tempat
penyimpanan amal.

Addailamy meriwayatkan hadits dari RasuluLlah SAW yang bersabda,
“Meninggalkan kenikmatan dunia lebih pahit dari pada sabar, dan lebih berat daripada memukulkan pedang di jalan Allah.

Dan tiada sekali-kali orang mahu meninggalkan kenikmatan dunia melainkan Allah akan memberi sesuatu seperti yang diberikan kepadapara Syuhada’. Dan meninggalkan kenikmatan dnia adalah dengan menyedikitkan makan dan kekenyangan, dan membenci pujian manusia karena sesungguhnya orang yang suka di puji oleh manusia adalah termasuk mencintai dunia dan kenikmatannya. Dan barang
siapa menginginkan kenikmatan yang sesungguhnya maka hendaklah ia meninggalkan kenikmatan dunia dan pujian dari manusia”.

Dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sesungguhnya RasuluLlah SAW bersabda,
“Barang siapa yang niatnya adalah untuk akhirat, niscaya Allah akan mengumpulkan kekuatan baginya dan Allah membuat hatinya menjadi kaya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.

Dan barang siapa yang niatnya dunia maka Allah akan mencerai beraikan segala urusannya, dan Allah menjadikan kefakiran di depan kedua belah matanya dan tiadalah
dunia akan mendatanginya kecuali apa yang telah tertulis untuknya”.

Maqolah 28

Dari Aby Bakr Asy-Syibly RahimahuLlahu Ta’ala, Beliau tinggal di Baghdad, berkawan dengan Syaikh Abul Qasim Junaidy Al-Baghdady bahkan menjadi murid beliau, dan beliau hidup hingga usia 87 tahun, wafat pada tahun 334 H dan dimakamkan di Baghdad. Dimana beliau termasuk pembesar
para sufi dan para ‘arif biLlah.

Beliau berkata di dalam munajatnya :
Wahai Tuhanku…
Sesungguhnya aku senang Untuk mempersembahkan kepadaMu semua kebaikanku Sementara aku sangat faqir dan lemah Oleh karena itu wahai Tuhanku,
Bagaimana Engkau tidak senang Untuk memberi ampunan kepadaku atas segala kesalahanku Sementara Engkau Maha Kaya
Karena sesungguhnya keburukanku tidak akan membahayakanMu Dan kebaikanku tidaklah memberi manfaat bagiMu
Dan sesungguhnya sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah agar
dibaca setelah melaksanakan shalat Jum’at 7 kali dari bait syair sebagai berikut:

Ilahy lastu lil firdausi ahla
Walaa aqway ‘ala naaril jahiimi
Fahably zallaty wahfir dzunuuby
Fa innaka ghaafirul dzanbil ‘adziimi
Wa ‘aamilny mu’aamalatal kariimi
Watsabbitny ‘alan nahjil qawwimi

(Hikayat) Sesungguhnya Syaikh Abu Bakr As-Syibly datang kepada Ibnu Mujaahid. Maka segeralah Ibnu Mujaahid mendekati As-Syibly dan mencium tempat diantara kedua mata beliau. Maka ditanyakanlah kepada Ibnu Mujaahid akan perbuatannya yang demikian, dan beliau berkata,
“Sesungguhnya aku melihat RasuluLlah SAW di dalam tidur dan sungguh beliau SAW telah mencium Syaikh Abu Bakr As-Syibly.

Ketika itu berdirilah Nabi SAW di depan as-Syibly dan beliau mencium antara kedua
mataAs-Syibly. Maka aku bertanya, ‘Yaa RasuluLlah, apakah benar engkau berbuat yang demikian terhadap As-Syibly ?’. RasuluLlah SAW menjawab, ‘benar, sesungguhnya dia tidak sekali-kali mengerjakan shalat fardhu melainkan setelah itu membaca

 Laqad jaa a kum Rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum chariisun ‘alaikum bil mukminiinarra’uufurrahiim faintawallau faqul chasbiyaLlaahu laaIlaaha
Illa Huwa ‘alaiHi tawakkaltu waHuwa Rabbul ‘Arsyil ‘adziim….

setelah itu dia As-Syibly mengucapkan salam ShallaLlaahu ‘alaika Yaa Muhammad”.
Kemudian aku tanyakan kepada As-Syibli mengenai apa yang dibacanya setelah shalat fardhu, maka beliau menjawab seperti bacaan tadi….

Maqolah 29

Telah berka Asy-syibly, “Apabila engkau menginginkan ketenangan bersama
Allah, maka bercerailah dengan nafsumu.”

Artinya tidak menuruti apa yang menjadi keinginannya. Telah ditanyakan keadaan Asy-Syibly di dalam mimpi setelah beliau wafat, maka beliau menjawab,’ Allah Ta’ala berfirman kepadaku,’Apakah engkau mengetahui dengan sebab apa Aku mengampunimu ?’

Maka aku menjawab, ‘Dengan amal baikku”.
Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.
Aku menjawab, ‘Dengan ikhlas dalam ubudiyahku ‘.
Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.
Aku menjawab,’Dengan hajiku dan puasaku ?’
Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.
Aku menjawab, ‘Dengan hijrahku mengunjungi orang-orang shaleh untuk
mencari ilmu“.
Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.
Akupun bertanya, ‘Wahai Tuhanku, kalau begitu dengan apa ?“
Allah Ta’ala menjawab, ‘Apakah engkau ingat ketika engkau berjalan di
Baghdad kemudian engkau mendapati seekor anak kucing yang masih kecil
dan lemah karena kedinginan, dan ia emnggigil karenanya. Kemudian engkau
mengambilnya karena rasa kasihan kepada anak kucing itu dan engkau
hangatkan ia ?”
Aku menjawab, ‘Ya’.
Maka berfirmanlah Allah Ta’ala, ‘Dengan kasih sayangmu kepada anak
kucing yang masih kecil itulah Aku menyayangimu’.

Maqolah 30

Telah berkata Asy-Syibli, “Jika engkau telah merasakan nikmatnya pertemuan (wushlah – dekat dengan Allah SWT) niscaya engkau akan mengerti rasa pahitnya perpisahan (Qathi’ah-yaitu jauh dari Allah Ta’ala) . karena sesungguhnya berjauhan dari Allah SWT merupakan siksaan yang besar bagi AhluLlah ta’ala. Dan termasuk salah satu dari do’a SAW adalah ,”Allahummarzuqny ladzatan nadzari ilaa wajhiKal Kariim, wasyauqu ilaa liqaaiK”. (Yaa Allah berikanlah kepadaku kelezatan dalam memandang wajah-Mu yang Mulia dan rasa rindu untuk bertemu dengan-Mu)

Maqolah 31

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda, “Barang saiapa yang pada waktu pagi hari (memasuki waktu subuh) dalam keadaan mengadu kepada manusia tentang kesulitan hidupnya, maka seakanakan ia telah mengadukan Tuhannya.

 “. Sesungguhnya pengaduan selayaknya hanya kepada Allah karena pengaduan kesulitan hidup kepada Allah termasuk do’a.
adapun mengadu kepada manusia menunjukkan tidak adanya ridha dengan
pembagian Allah Ta’ala sebagaimana diriwayatkan dari AbdiLlah bin Mas’ud
RA, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Maukah kamu semua aku ajari sebuah
kalimat yang diucapkan Musa AS ketika melintasi lautan bersama bani israil ?“. kami semua menjawab ,”Baik Yaa RasuluLlah”.

RasuluLlah SAW bersabda,”Ucapkanlah kalimat ‘Allahumma laKal hamdu wa ilaiKal Musytakay wa Antal Musta’aan wa laa haula walaa quwwata illa biLlahil ‘Aliyyil ‘Adhiim” (Yaa Allah segala puji hanya untuk-Mu, dan hanya kepadamulah tempat mengadu, dan Engkaulah Penolong dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Maka berkatalah Al-A’masy, Tidaklah kami pernah meninggalkan membaca kalimat tersebut sejak kami mendengarnya dari Syaqiq Al-Asady Al kuufy.

Barang siapa pada waktu pagi hari berduka atas perkara duniawi, maka sesungguhnya ia telah marah kepada tuhannya. Artinya, barang siapa yangmbersedih karena urusan dunia, sesungguhnya ia telah marah kepada
Tuhannya, karena ia tidak ridha dengan qadha’ (takdir Allah) dan tidak bersabar atas cobaan-Nya dan tidak beriman dengan kekuasaan-Nya.

Karena sesungguhnya apa saja yang terjadi di dunia ini adalah atas qadha Ilahi
Ta’ala dan atas kekuasaan-Nya.

Dan barang siapa yang merendahkan diri kepada orang kaya karena melihat kekayaannya, maka hilanglah 23 agamanya.

 Artinya bahwa disyari’atkannya penghormatan manusia kepada orang lain adalah karena alasan kebaikan dan ilmunya bukan karena kekayaannya. Karena sesungguhnya orang yang memuliakan harta, sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan ilmu dan amal shaleh. Telah berkata Sayyidy Syaikh Abdul qadir Al- Jailany RA, “Tidak
boleh tidak bagi seorang muslim pada setiap keadaannya selalu dalam tiga keadaan, yangpertama melaksanakan perintah, kedua menjauhi larangan, dan ketiga ridha dengan pembagian Tuhan.”

 Dan kondisi minimal bagi seorang mukmin adalah tidak terlepas dari salah satu dari tiga keadaan tersebut di atas, 32. telah berkata Sayidina Aby Bakar As-Shidiq RA, “Tiga
perkara yang tidak akan dapat diperoleh dengan tiga perkara lainnya.

Artinya ada tiga perkara, dimana tiga perkara tersebut tidak akan dapat diperoleh dengan tiga perkara, yaitu yang pertama Kekayaan dengan hanya berangan-angan. Sesungguhnya kekayaan tidak dapat diperoleh hanya dengan berangan-angan akan tetapi dengan pembagian dari Allah. yang ke dua Muda dengan bersemir. Maka tidak akan dapat diperoleh kemudaan usia hanya dengan menyemir rambut dan lain sebagainya. Yang ketiga, Kesehatan dengan obat-obatan.

Maqolah 32

Dari Abu Bakar As-Shidiq RA, “Tiga perkara tidak dapat di capaididapatkan dengan tiga perkara lainnya :

1. Kekayaan dengan angan-angan. Artinya tidaklah kekayaan itu dapat diperoleh hanya dengan berangan-angan tanpa kerja nyata, dan pembagian dari Allah.

2. Muda usia dengan semir. Artinya tidaklah akan diperoleh keadaan menjadi muda hanya
karena disemirnya rambut dan sebagainya. Akan tetapi orang yang sudah bertambah usia (tua) tidaklah mungkin berubah menjadi muda kembali meskipun dengan rambut disemir atau yang lainnya. Dan umur akan terus berjalan hingga akhirnya habislah umur itu kembali menghadap sang Khaliq.

3. Dan kesehatan dengan menggunakan obat-obatan. Artinya kesehatan tidak dapat diperoleh dengan mengkonsumsi obat-obatan akan tetapi sesuai sunnah Allah harus dengan menjaga diri dengan makanan yang halal dan olah raga secara teratur
serta rajin beribadah.

Maqolah 33

Dari Sahabat Umar RA, “bersikap kasih sayang dengan manusia adalah setengah dari sempurnanya aka”l. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hiban dan Thabrani dan Baihaqi dari Jabir bin abdiLlah dari Naby SAW bersabda, “Berperilaku baik terhadap manusia adalah shadaqah”. Artinya
berperilaku yang baik terhadap manusia melalui ucapan dan perbuatan pahalanya sama dengan orang yang bersedekah.

Dan sebagian dari suritauladan Naby dalam bersikap baik dalam pergaulan adalah beliau
tidak pernah mencela makanan dan menghardik pelayan dan tidak pernah
memukul wanita termasuk isteri beliau. Dan yang lebih tepat untuk perilaku yang baik ini adalah meninggalkan kesenangan duniawi karena tuntutan agama. Dan rajn bertanya (kepada Ulama) adalah setengah dari ilmu.

Karena ilmu akan dipeorleh apabila kita rajin bertanya terhadap segala sesuatu yang kita tidak tahu. Dan rajin bekerja adalah setengah
dari penghidupan. Karena dengan rajin bekerja kita akan memperoleh rizki sebagai bekal untuk kelangsungan hidup kita.

Maqolah ke 37

Dari Nabi Dawud AS, Diwahyukan di dalam kitab Zabur, – Wajib bagi orang yang berakal untuk tidak menyibukkan diri kecuali dalam tiga hal :

1. Mempersiapkan bekal untuk perjalanan ke akhirat.
2. Bergaul dengan pergaulan yang baik.
3. Bekerja dengan baik mencari rizki yang halal untuk bekal ibadah
kepada Allah karena mencari rizki yang halal adalah wajib hukumnya.

Maqolah ke 38

Dari Abu Hurairah RA. Nama beliau adalah AbduRrahman bin Shakhr. Beliau berkata, telah bersabda Naby SAW Ada tiga perkara yang menyelamatkan (dari adzab), tiga perkara yang merusakkan (membawa orang kepada kerusakannya), tiga perkara meningkatkan derajat (beberapa tingkatan di
akhirat), tiga perkara menghapuskan dosa. Adapun tiga yang menyelamatkan adalah:

1. Takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.
2. Sedang dalam faqir dan kekayaan.
3. Seimbang dalam ridha dan marah (yaitu Ridha karena Allah dan marah
karena Allah).

Adapun (tiga) yang merusakkan adalah:

1. bakhil yang bersangatan (dengan tidak mau memberikan apa yang menjadi hak Allah dan haq makhluk). Dalam riwayat lain bakhil yang diperturutkan. (Adapun apabila sifat bakhil itu ada dalam diri seseorang akan tetapi tidak diperturutkan, maka tidaklah yang demikian ini merusakkan karena sifat bakhil adalah sifat yang lazim ada pada manusia).

2. Hawa nafsu yang selalu diikuti.

3. Dan herannya (‘ujub) manusia terhadap diri sendiri. (Artinya seseorang memandang dirinya dengan pandangan kesempurnaan dirinya
disertai lalai terhadap ni’mat Allah Ta’ala dan merasa aman dari
hilangnya ni’mat itu).

Adapun yang meninggikan derajat adalah:
1. Menebarkan salam (artinya menebarkan salam kepada orang lain yang dikenal maupun yang tidak dikenal).

2. Memberikan hidangan makanan (kepada tamu atau orang yang menderita kelaparan).

3. Dan shalat pada waktu malam sedang manusia sedang tertidur lelap
(yaitu mengerjakan shalat tahajud pada tengah malam ketika orang-orang
sedang lalai dalam ni’matnya tidur).

Adapun yang dapat menghapus dosa adalah :
1. Menyempurnakan wudhu pada saat yang sulit (artinya menyempurnakan wudhu pada saat udara sangat dingin dengan menjalankan sunah-sunahnya).

2. Malangkahkan kaki untuk mengerjakan shalat berjama’ah.

3. Menunggu shalat sesudah shalat (Untuk mengerjakan shalat berikutnya
di masjid yang sama).

Maqolah ke 39 :

قال جبریل علیھ السلام یا محمد عش ما شئت فئنك میت, وأحبب من شئت فئنك
مفارقة, واعمل ما شئت فئنك مجزى بھ,

Jibril As berkata, “Ya Muhammad hiduplah sesuka engkau karena sesungguhnya engkau akan meninggal dunia. Dan cintailah orang yang engkau suka karena engkau pasti akan berpisah (disebabkan kematian). Dan
beramalah sesuka engkau karena engkau akan di beri pahala atas amal itu.

Maqolah ke 40 :

قال النبي صل الھ علیھ وسلم : ثلاثة نفر یظلھم الله تحت ظل عرشھ یوم لاظل
الا ظلھ. المتوضئ فى المكاره, والماشى الى المساجد فى الظلم, ومطعم الجائع.

Tiga golongan yang akan mendapatkan naungan اللهdi bawah naungan ‘arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.
1. orang yang berwudhu pada waktu yang sangat berat (dingin bersangatan).

2. orang yang pergi ke masjid dalam kegelapan )untuk mengerjakan shalat
berjama’ah).

3. Orang yang memberi makan orang yang kelaparan.

Maqolah ke 41 :

قیل لابراھیم علیھ السلام, “لأي شیئ اتخذك الله خلیلا ؟ قال بثلاثت اشیاء :
اخترت امر الله تعالى على أمر غیره, وما اھتممت بما تكفل الله لى وماتعیشت
وما تغدیت الا مع الضیف

Ditanyakan kepada Nabi Ibrahim AS, “Dengan sehingga الله menjadikan engkau sebagai kekasih ?” Maka Ia menjawab, “Dengan tiga hal, Aku memilih melaksanakan perintah  الله daripada perintah selain الله. Dan aku tidak bersedih hati atas apa yang telah اللهtanggung untukku (dari rizki). Dan tidak sekali-kali aku makan malam atau makan pagi kecuali bersama-sama dengan tamu.
Telah diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS berjalan satu mil atau dua mil untuk mencari orang yang mau dijak makan bersamanya.

Maqolah ke 42 :

عن بعض الحكماء : ثلاثة اشیاء تفرج الغصص 1 ذكر الله تعالي, 2 ولقاء
أولیائھ, 3 وكلام الحكماء

Diriwayatkan dari sebagian ahli hikmah (orang-orang yang pandai mengobati penyakit hati). Tiga perkara dapat menghilangkan kesusahan.

1. Dzikir kepada اللهdengan lafadz apapun seperti banyak membaca kaliamat
لاالھ الااللهdan kalimat لاحولولاقوةالابالله, atau dengan bermunajat
kepada-Nya.

2. Bertemu kekasih  Aulia-Nya dari para ulama dan orang-orang saleh.

3. Mendengarkan kalam (nasihat) para hukama’ (orang yang menunjukkan kepada kebajikan dunia dan akhirat).

Maqolah ke 43

عن حسن البصرى رضي الله عنھ : من لا أدبلھ لاعلم لھ, ومن لاصبرلھ لادین لھ,
ومن لاورع لھ لازلفى لھ.

Dari Hasan Al Bashri RA, Barang siapa yang tidak memiliki adabetika (kepada اللهdan kepada makhluk) maka tiadalah ilmu baginya. Barang siapa yang tidak memiliki kesabaran (karena menanggung bala’ dan menanggung disakiti oleh makhluk, dan atas beratnya menjahui maksiyat dan atas
melaksanakan kewajiban), maka tiadalah agama baginya. Barang siapa yang tidak wara’ (dari yang haram dan syubhat) maka tidak ada pujian (martabat) baginya di hadapan اللهdan tiada kedekatan baginya kepada .الله

  Kajian Kitab Nashoihul ‘Ibad Syekh Nawawi Al-Bantany (bagian 1)

Kajian Kitab Nashoihul ‘Ibad Syekh Nawawi Al-Bantany (bagian 1)Reviewed
by Tim SarkubonMonday, November 4th, 2013.This Is Article AboutKajian
Kitab Nashoihul ‘Ibad Syekh Nawawi Al-Bantany (bagian 1)

Bismillahirahmanirahim, Qola Mu’alif Rohimakumullah Wa’anfaana Fi
‘ulumihi Fidaroini Amin.

Maqolah 1 Diriwayatkan dari Nabi SAW,
sesungguhnya Beliau bersabda, “Ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama muslim. Baik dengan ucapan atau kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan badannya. – Rasuulullah SAW

Bismillahirahmanirahim,
Qola Mu’alif Rohimakumullah Wa’anfaana Fi ‘ulumihi Fidaroini Amin.

Maqolah 1

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda, “Ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama muslim. Baik dengan ucapan atau kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan badannya.

– Rasuulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang pada waktu pagi hari tidak mempunyai niat untuk menganiaya terhadap seseorang maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Dan  “Barang siapa pada waktu
pagi hari memiliki niat memberikan pertolongan kepada orang yang dianiaya atau memenuhi hajat orang islam, maka baginya mendapat pahala seperti pahala hajji yang mabrur).

– Dan Nabi SAW bersabda, “Hamba yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling utama adalah membahagiakan hati orang mukmin dengan menghilangkan laparnya, atau menghilangkan kesusahannya, atau membayarkan hutangnya.

-Dan ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari dua tersebut yaitu syirik kepada Allah dan mendatangkan bahaya kepada kaummuslimin. Baik membahayakan atas badannya, atau hartanya.

Karena sesungguhnya semua perintah Allah kembali kepada dua masalah tersebut.
Mengagungkan Allah dan berbuat baik kepada makhluknya, sebagaimana
firman Allah Ta’ala Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan firman Allah Ta’ala Hendaklah kamu bersyukur kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu.

Maqolah 2

Nabi SAW bersabda, “wajib bagi kamu semua untuk duduk bersama para Ulama” artinya yang mengamalkan ilmunya, dan mendengarkan kalam para ahli hikmah artinya orang yang mengenal Tuhan.

Karena sesungguhnya Allah
Ta’ala akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah-ilmu yang
bermanfaat sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang mati dengan air
hujan. Dan dalam riwayat lain dari
Thabrani dari Abu Hanifah :  “Duduklah kamu dengan orang dewasa, dan
bertanyalah kamu kepada para Ulama’ dan berkumpulah kamu dengan para
ahli hikmah” dan dalam sebuah riwayat, “duduklah kamu degan para ulama,
dan bergaulah dengan kubaro’ ”.

Sesungguhnya Ulama itu ada dua macam,

1. orang yang alim tentang hukum-hukum Allah, mereka  itulah yang
memiliki fatwa , dan

2. ulama yang ma’rifat akan Allah, mereka itulah para hukama’ yang dengan bergaul dengan mereka akan dapat memperbaiki akhlak, karena sesungguhnya hati mereka telah bersinar sebab ma’rifat kepada Allah
demikian juga sirr / rahasia mereka telah bersinar disebabkan nur keagungan Allah.

Telah bersabda Nabi SAW, akan hadir suatu masa atas umatku, mereka
menjauh dari para ulama dan fuqaha, maka Allah akan memberikan cobaan
kepada mereka dengan tiga cobaan,

1. Allah akan menghilangkan berkah dari rizkinya.

2. Allah akan mengirim kepada mereka penguasa yang zalim

3. Mereka akan keluar meninggalkan dunia tanpa membawa iman kepada Allah
Ta’ala Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Maqolah 3

Dari Abi Bakar As-Shiddiq RA, “Barang siapa yang memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu berupa amal shalih maka keadaannya seperti orang yang menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu. Maka sudahlah pasti ia akan tenggelam dengan setenggelam-tenggelamnya dan tidak mungkin akan
selamat kecuali mendapatkan pertolongan oleh orang-orang yang dapat menolongnya..

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, tidaklah seorang mayat yang meninggal itu, melainkan seperti orang yang tenggelam yang meminta pertolongan.

Maqolah 4

Dari ‘Umar RA,-dinukilkan dari Syaikh Abdul Mu’thy As-sulamy, sesungguhnya Nabi SAW bertanya kepada Jibril AS,

– Beritahukan kepadaku sifat kebaikan sahabat ‘Umar’. Maka Jibril menjawab, ‘Jika saja lautan dijadikan tinta dan tumbuh-tumbuhan dijadikan pena niscaya tidak akan cukup melukiskan sifat kebaikannya.

– Kemudian Nabi bersabda, beritahukan kepadaku kebaikan sifat Abu Bakar,”. Maka Jibril menjawab, ”’Umar hanyalah satu kebaikan dari beberapa kebaikan Abu Bakar RA. Umar RA berkata, kemuliaan dunia dengan banyaknya harta. Dan kemuliaan akhirat adalah dengan bagusnya amal.
Maksudnya, urusan dunia tidak akan lancar dan sukses kecuali dengan dukungan harta benda. Demikian pula perkara akhirat tidak akan menjadi sempurna kecuali dengan amal perbuatan yang baik.

Maqolah 5

Dari ‘Utsman RA, “menyusahi dunia akan menggelapkan hati. Dan menyusahi akhirat akan menerangkan hati. Artinya, menyusahi urusan yang berhubungan dengan urusan dunia maka akan menjadikan hati menjadi gelap.

Dan menyusahi perkara yang berhubungan dengan urusan akhirat akan menjadaikan hati menjadi terang. Yaa Allah jangan jadikan dunia sebesar-besar perkara yang kami susahi, dan bukan pula puncak ilmu kami.

Maqolah 6

Dari ‘Aly RA wa KarramaLlaahu Wajhah, “Barang siapa yang mencari ilmu maka surgalah sesungguhnya yang ia cari. Dan barang siapa yang mencari maksiat maka sesungguhnya nerakalah yang ia cari, Artinya barang siapa yang menyibukkan diri dengan mencari ilmu yang bermanfaat, yang mana tidak boleh tidak bagi orang yang aqil baligh untuk mengetahuinya maka pada hakekatnya ia mencari surga dan mencari ridho Allah SWT.

Dan barang siapa yang menginginkan ma’siyat, maka pada hakekatnya nerakalah yang ia cari, dan kemarahan Allah Ta’ala.

Maqolah 7

Dari Yahya bin Muadz RA, “Tidak akan durhaka kepada Allah orang-orang yang mulia”, yaitu orang yang baik tingkah lakunya Yaitu mereka yang memuliakan dirinya dengan menghiasinya dengan taqwa dan menjaga diri dari ma’siyat.

Dan tidak akan memilih dunia dari pada akhirat orang-orang yang bijaksana Artinya orang bijak / hakiim tidak akan mendahulukan atau mengutamakan urusan dunia dari pada urusan akhirat.

Adapun orang hakiim adalah orang yang mencegah dirinya dari pada bertentangan dengan kebenaran akal sehatnya.

Maqolah 8

Dari A’Masy, nama lengkapnya adalah Abu Sulaiman bin Mahran AL-Kuufy RA, “Barang  siapa yang bermodalkan taqwa, maka kelulah lidah untuk menyebutkan sifat mkeberuntungannya dan barang siapa yang bermodalkan dunia, maka kelulah lidah untuk menyebut sebagai kerugian dalam hal
agamanya, Artinya barang siapa yang bermodalkan taqwa dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya dimana dasar dari amal perbuatannya adalah selalu bersesuaian dengan syari’at, maka baginya pasti mendapatkan kebaikan yang sangat besar tanpa dapat dihitung dalam
hal kebaikan yang diperolehnya.

Dan kebalikannya barang siapa yang perbuatannya selalu berseberangan dengan hukum syari’at, maka baginya kerugian yang sangat besar bahkan lidahpun sampai tidak dapat menyebutkannya.

Maqolah 9

Diriwayatkan dari Sufyan Atsauri, beliau adalah guru dari Imam Malik RA, “Setiap ma’siyat yang timbul dari dorongan syahwat yaitu keinginan yang teramat sangat akan sesuatu maka dapat diharapkan akan mendapat ampunanNya.

Dan setiap ma’siyat yang timbul dari takabur atau sombong yaitu mendakwakan diri lebih utama atau mulia dari yang lain , maka maksiyat yang demikian ini tidak dapat diharapkan akan mendapat ampunan dari Allah, Karena maksiyat iblis berasal dari ketakaburannya yang tidak mau hormat kepada Nabi Adam AS atas perintah Allah dimana ia menganggap dirinya lebih mula dari Nabi Adam AS yang diciptakan dari tanah sedangkan ia/iblis diciptakan dari api.

 Dan sesungguhnya kesalahan Nabi Adam AS adalah karena keinginannya yang teramat sangat untuk memakan buah yang dilarang oleh Allah untuk memakannya.

Maqolah 10

Dari sebagian ahli zuhud yaitu mereka yang menghinakan kenikmatan dunia dan tidak peduli dengannya akan tetapi mereka mengambil dunia sekedar dharurah/darurat sesuai kebutuhan minimumnya. “Barangsiapa yang melakukan perbuatan dosa dengan tertawa bangga, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan menangis- karena seharusnya
ia menyesal dan memohon ampunan kepada Allah bukannya berbangga hati.

Dan “barangsiapa yang ta’at kepada Allah dengan menangis- karena malu kepada Allah dan Takut kepadaNya karena merasa banyak kekurangan dalam hal ta’at kepaadNya, Maka Allah akan memasukkanNya ke dalam surga dalam keadaan tertawa gembira dengan sebenar-benar gembira karena mendapatkan
apa yang menjadi tujuannya selama ini yaitu ampunan dari Allah.

Maqolah 11

Dari sebagian ahli hikmah / Aulia’ Janganlah kamu menyepelekan dosa yang kecil karena dengan selalu menjalankannya maka lama kelamaan akan tumbuhlah ia menjadi dosa besar. Bahkan terkadang murka Tuhan itu ada pada dosa yang kecil-kecil.

Maqolah 12

Dari Nabi SAW : “Tidaklah termasuk dosa kecil apabila dilakukan secara terus menerus” karena dengan dilakukan secara terus menerus, maka akan menjadi besarlah ia. Dan tidaklah termasuk dosa besar apabila disertai dengan taubat dan istighfar” Yaitu taubat dengan syarat-syaratnya.

Karena sesungguhnya taubat dapat menghapus bekas-bekas dosa yang dilakukan meskipun yang dilakukan tersebut dosa besar. Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-dailamy dari Ibni Abbas RA.

Maqolah 13

Keinginan orang arifiin adalah memujiNya, maksudnya keinginan orang ahli ma’rifat adalah memuji Allah Ta’ala dengan keindahan sifat-sifatnya, dan keinginan orang-orang zuhud adalah do’a kepadaNya, yaitu permintaan kepada Allah sekedar hajat kebutuhannya dari dunia dengan segenap
hatinya, dimana yang dimaksud do’a adalah meminta dengan merendahkan diri kepadaNya dengan memohon diberi kebaikan kepadanya, Karena keinginan orang arif/ ahli ma’rifat dari Tuhannya bukanlah pahala ataupun surga) sedangkan keinginan orang zuhud adalah untuk kepentingan
dirinya sendiri, yaitu untuk kemanfatan dirinya dari pahala dan surga yang didapatkannya.

Maka demikianleh perbedaan orang yang keinginan hatinya mendapatkan bidadari dan orang yang cita-citanya adalah keterbukaan hatinya.

Maqolah 14

diriwayatkan dari sebagian hukama’ yaitu orang yang ahli mengobati jiwa manusia, dan mereka itulah para wali Allah.

– Barangsiapa yang menganggap ada pelindung yang lebih utama dari Allah
maka sangat sedikitlah ma’rifatnya kepada Allah, Maknanya adalah barang siapa yang menganggap ada penolong yang lebih dekat daripada pertolongan Allah, maka sesungguhnya dia belum mengenal Allah.

– Dan barang siapa yang menganggap ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsunya sendiri, maka sedikitlah ma’rifatnya/pengetahuannya tentang nafsunya Artinya adalah barang siapa yang berperasangka ada musuh yang lebih kuat dari pada hawa nafsunya yang selalu mengajak kepada kejahatan, maka sedikitlah ma’rifatnya/pengetahuannya akan hawa
nafsunya sendiri.

Maqolah 15

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Menafsiri firman Allah Ta’ala, “Sungguh telah nyatalah kerusakan baik di daratan maupun di lautan, maka beliau memberikan tafsirannya (Yang dimaksud Al-Barr/ daratan adalah lisan.Sedangkan yang dimaksud Al-Bahr / lautan adalah hati).   Apabila lisan telah rusak dikarenakan mengumpat misalnya, maka akan menangislah diri seseorang / anak cucu adam. Akan tetapi apabila hati yang rusak disebabkan karena riya’ misalnya, maka akan menangislah malaikat. Dan
diperumpamakan hati/qalb dengan lautan adalah dikarenkan sangat dalamnya
hati itu.

Maqolah 16

Dikatakan, karena syahwat maka seorang raja berubah menjadi hamba sahaya/budak karena sesungguhnya barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akan menjadi hamba dari sesuatu yang dicintainya. dan sabar akan membuat seorang hamba sahaya berubah menjadia seorang raja, karena
seoang hamba dengan kesabarannya akan memperoleh apa yang ia inginkan.Apakah belum kita ketahui kisah seorang hamba yang mulia putra seorang yang mulia, putera seorang yang mulia Sayyidina Yusuf AS
Ash-Shiddiq, putera Ya’qub yang penyabar, putera Ishaq yang penyayang, putera Ibrahim Al-Khalil AS dengan Zulaikha.

Sesungguhnya ia zulaikha sangat cinta kepada Sayyidina Yusuf AS dan Sayyidina Yusuf bersabar dengan tipudayanya.

Maqolah 17

Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin dengan mengikuti petunjuk akalnya yang sempurna sedangkan hawa nafsunya menjadi tahanan dan celakalah bagi orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai penguasanya, dengan melepaskannya dalam menuruti apa yang di
inginkannya, sedangkan akalnya menjadi hambanya yaitu akal tersebut terhalang untuk memikirkan ni’mat Allah dan keagungan ALlah.

Maqolah 18

Barang siapa yang meninggalkan perbuatan dosa, maka akan lembutlah hatinya, maka hati tersebut akan senang menerima nasihat dan ia khusyu’ memperhatikan akan nasihat tersebut. Barang siapa yang meninggalkan
sesuatu yang haram baik dalam hal makanan, pakaian dan yang lainnya dan ia memakan sesuatu yang halal maka akan jernihlah pikirannya didalam bertafakur tentang semua ciptaan Allah yang menjadi petunjuk akan adanya Allah Ta’ala yang menghidupkan segala sesuatu setelah kematiannya demikian pula menjadi petunjuk akan keEsaan Allah dan kekuasaanNya dan ilmuNya.

– Dan yang demikian ini terjadi apabila ia mempergunakan fikirannya dan melatih akalnya bahwa Allah SubhanaHu Wata’ala yang menciptakan dia dari nuthfah di dalam rahim, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian Allah menjadikan tulang dan daging dan urat syaraf serta menciptakan anggota badan baginya.

Kemudian Alah memberinya pendengaran, penglihatan dan semua anggota badan, kemudian Allah memudahkannya keluar sebagai janian dari dalam rahim ibunya, dan
memberinya ilham untuk menyusu kepada ibunya, dan Allah menjadikannya pada awal kejadian dengan tanpa gigi gerigi kemudian Allah menumbuhkan gigi tersebut untuknya, kemudian Allah menanggalkan gigi tersebut pada usia 7 tahun kemudian Allah menumbuhkan kembali gigi tersebut.

Kemudian Allah menjadikan keadaan hambanya selalu berubah dari kecil kemudian tumbuh menjadi besar dan dari muda berubah menjadi tua renta dan dari
keadaan sehat berubah menjadi sakit. Kemudian Alah menjadikan bagi
hambaNya pada setiap hari mengalami tidur dan jaga demikian pula rambutnya dan kuku-kukunya manakala ia tanggal maka akan tumbuh lagi seperti semula.

Demikian pula malam dan siang yang selalu bergantian, apabila hilang yang satu maka akan disusul dengan timbulnya yang lain.

Demikian pula dengan adanya matahari, rembulan, bintang-bintang dan awan dan hujan yang semuanya datang dan pergi.
Demikian pula bertafakur tentang rembulan yang berkurang pada setiap malamnya,kemudian menjadi purnama, kemudian berkurang kembali. Seperti
itu pula pada gerhana matahari dan rembulan ketika hilang cahayanya
keudian cahaya itu kembali lagi.

Kemudian berfikir tentang bumi yang gersang lagi tandus maka Allah menumbuhkannya dengan berbagai macam tanaman, kemudian Allah menghilangkan lagi tanaman tersebut kemudian menumbuhkannya kembali.

Maka kita akan dapat berkesimpulan bahwa Allah Dzat yang mampu berbuat yang sedemikian ini tentu mampu untuk menghidupkan sesuatu yang telah
mati. Maka wajib bagi hamba untuk selalu bertafakur pada hal yang demikian sehingga menjadi kuatlah imannya akan hari kebangkitan setelah kematian, dan pula ia mengetahui bahwa Allah pasti membangkitkannya dan membalas segala amal perbuatannya. Maka dengan seberapa imannya dari hal yang demikian yang membuat kita bersungguh-sungguh melaksanakan ta’at atau menjauhi ma’siyat.

Maqolah 19

Telah diwahyukan kepada sebagian Nabi Ta’atlah kepadaKu akan apa yang Aku perintahkan dan janganlah bermaksiyat kepadaku dari apa yang Aku nasehatkan kepadamu. Artinya dari nasihat yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebaikan dan dengan apa yang dilarang maka seorang hamba akan tehindar dari kerusakan.
 
———=========———

Sekian ringkasan yang dapat kami sajikan, semoga bermanfaat di dunia dan Akhirat, Amin.

ABDURRAHMAN BIN AUF (SAHABAT YANG SANGAT DERMAWAN)

ABDURRAHMAN BIN AUF (SAHABAT YANG SANGAT DERMAWAN)

Salah seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapat rekomendasi masuk surga adalah `Abdurrahmân bin `Auf bin `Abdi `Auf bin `Abdil Hârits Bin Zahrah bin Kilâb bin al-Qurasyi az-Zuhri Abu Muhammad. Dia juga salah seorang dari enam orang Sahabat Radhiyallahu anhum yang ahli syura. Dia dilahirkan kira-kira sepuluh tahun setelah tahun Gajah dan termasuk orang yang terdahulu masuk Islam. Dia berhijrah sebanyak dua kali dan ikut serta dalam perang Badar dan peperangan lainnya. Saat masih jahilillah, ia bernama `Abdul Ka`bah atau `Abdu `Amr; kemudian diberi nama `Abdurrahmân oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1] Ibunya bernama Shafiyah. Sedangkan ayahnya bernama `Auf bin `Abdu `Auf bin `Abdul Hârits bin Zahrah.[2]

`Abdurrahmân bin `Auf adalah seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat dermawan dan yang sangat memperhatikan dakwah Islam, berikut ini adalah sebagian kisahnya:

`Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar, kemudian membagi-bagikan uang tersebut kepada para fakir miskin bani Zuhrah, orang-orang yang membutuhkan dan kepada Ummahâtul Mukminin (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Al-Miswar berkata: “Aku mengantarkan sebagian dari dinar-dinar itu kepada Aisyah Radhiyallahu anhuma. Aisyah Radhiyallahu anhuma dengan sebagian dinar-dinar itu.” Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata: “Siapa yang telah mengirim ini?” Aku menjawab: “`Abdurrahmân bin Auf”. Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata lagi: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Tidak ada yang menaruh simpati kepada kalian kecuali dia termasuk orang-orang yang sabar. Semoga Allah Azza wa Jalla memberi minum kepada `Abdurrahmân bin Auf dengan minuman surge [3]””

Dalam hadits lain disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan (sesuatu) kepada sekelompok Sahabat Radhiyallahu anhum yang di sana terdapat `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu ; namun beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan apa pun kepadanya. Kemudian `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu keluar dengan menangis dan bertemu Umar Radhiyallahu anhu . Umar Radhiyallahu anhu bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sesuatu kepada sekelompok Sahabat, tetapi tidak memberiku apa-apa. Aku khawatir hal itu akibat ada suatu keburukan padaku”. Kemudian Umar Radhiyallahu anhu masuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keluhan `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab: ‘Aku tidak marah kepadanya, tetapi cukup bagiku untuk mempercayai imannya.[4]”

Keutamaan-Keutamaan `Abdurrahmân bin Auf di antaranya:
`Abdurrahmân bin `Auf walaupun memiliki harta yang banyak dan menginfakkanya di jalan Allah Azza wa Jalla , namun dia selalu mengintrospeksi dirinya. `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu pernah mengatakan : “Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diuji dengan kesempitan, namun kami pun bisa bersabar, kemudian kami juga diuji dengan kelapangan setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami pun tidak bisa sabar”[5]

Suatu hari `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu diberi makanan, padahal dia sedang berpuasa. Ia mengatakan, “Mush`ab bin Umair telah terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Akan tetapi ketika dia meninggal tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah (apabila kain itu ditutupkan di kepala, kakinya menjadi terlihat dan apabila kakinya ditutup dengan kain itu, kepalanya menjadi terlihat). Demikian pula dengan Hamzah, dia juga terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Ketika meninggal, tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah. Aku khawatir balasan kebaikan-kebaikanku diberikan di dunia ini. Kemudian dia menangis lalu meninggalkan makanan tersebut.[6]”

Senada dengan kisah di atas, Naufal bin al-Hudzali berkata, “ Dahulu `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu teman bergaul kami. Beliau adalah sebaik-baik teman. Suatu hari dia pulang ke rumahnya dan mandi. Setelah itu dia keluar, ia datang kepada kami dengan membawa wadah makanan berisi roti dan daging, dan kemudian dia menangis. Kami bertanya, “ Wahai Abu Muhammad (panggilan `Abdurrahmân), apa yang menyebabkan kamu menangis?” Ia menjawab, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dalam keadaan beliau dan keluarganya belum kenyang dengan roti syair. Aku tidak melihat kebaikan kita diakhirkan.[7]

`Abdullâh bin Abbâs Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Umar bin Kaththâb Radhiyallahu anhu pergi ke Syam. Ketika sampai Sarghin (nama sebuah desa di batas Syam setelah Hijâz), ia berjumpa dengan penduduk al-Ajnad yaitu Abu Ubâdah dan para sahabatnya. Mereka memberitahu bahwa wabah penyakit telah berjangkit di Syam. Umar Radhiyallahu anhu berkata : ‘Panggilkan aku para Muhajirin yang awal (berhijrah)!’ Aku (`Abdullâh bin Abbâs-red) pun memanggil mereka. Umar Radhiyallahu anhu memberitahu dan meminta pendapat mereka tentang wabah tersebut. Kemudian mereka berselisih, sebagian mengatakan : “Engkau telah keluar untuk suatu tujuan. Menurut pendapat kami, engkau jangan mundur.” Sedangkan sebagian lain mengatakan : “Engkau bersama banyak orang dan bersama para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka kami berpendapat agar tidak membiarkan mereka terkena wabah.” Umar Radhiyallahu anhu berkata lagi : “Panggilkan para Anshar untukku”. Akupun memanggil mereka. Kemudian Umar Radhiyallahu anhu meminta pendapat kepada mereka dan mereka sama dengan pendapat para kaum Muhajirin yaitu mereka juga berbeda pendapat. Lalu Umar Radhiyallahu anhu berkata: “Panggilkan orang-orang tua Quraisy dari orang yang hijrah ketika fathu Mekah, yang berada di sini.” Akupun memanggil mereka dan tidak ada seorangpun yang berselisih. Mereka mengatakan, “Pendapat kami, sebaiknya kamu membawa kembali orang-orang dan tidak membiarkan mereka terkena wabah.” Kemudian Umar Radhiyallahu anhu berkata kepada orang-orang, “Sebaiknya kita kembali.” Dan merekapun setuju dengannya. Abu Ubaidah bin Jarrâh Radhiyallahu anhu mengatakan, “Apa kita berusaha berlari dari takdir Allah Azza wa Jalla ?” Umar Radhiyallahu anhu menjawab, “Seandainya selainmu mengucapkan hal itu, wahai Abu Ubaidah. Ya, kami berlari dari takdir Allah Azza wa Jalla menuju takdir Allah Azza wa Jalla yang lain. Kemudian datanglah `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu dan mengatakan: “Dalam hal ini, aku memiliki ilmunya. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ

Jika kalian mendengar (ada wabah) di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatanginya. Dan apabila wabah terjadi di suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar/lari darinya. [HR. Bukhâri no. 5398] [8]

Pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , `Abdurrahmân bin `Auf Radhiyallahu anhu pernah menyedekahkan separuh hartanya. Setelah itu dia bersedekah lagi sebanqak 40.000 dinar. Kebanyakan harta bendanya diperoleh dari hasil perdagangan [9].

Ja`far bin Burqan mengatakan, “ Telah sampai kabar kepadaku bahwa `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu telah memerdekakan 3000 orang.[10]

Imam Bukhâri menyebutkan dalam kitab tarikhnya bahwa `Abdurrahmân pernah memberikan wasiat kepada semua Sahabat yang mengikuti perang badar dengan 400 dinar. Dan jumlah mereka ketika itu 100 orang.[11]

Dia meninggal dunia pada tahun 32 H. Dia berumur 72 tahun dan dia dikubur di pemakaman baqi` dan `Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu ikut menyalatkannya.[12]

Demikian selintas kisah tentang seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat kaya, seorang konglomerat pada jamannya, namun amat sangat dermawan. Semoga menjadi tauladan bagi kita semua. Wallâhu a`lam